Berantas Narkoba Jangan Tebang Pilih

  • Whatsapp
Pict Portal MORIWANA News

UPAYA Memerangi dan memberantas peredaran Narkoba di wilayah hukum Polres Tolitoli tidak akan berjalan maksimal. Hal itu dikarenakan prilaku aparat Satuan Narkoba (Satnarkoba) yang  terkesan tebang pilih menindak serta menangkap pengguna Narkoba. Misalnya, kasus penangkapan terhadap tiga mahasiswa, Wawan, Irpan, Wandi serta Abussalam pengusaha Batako pada 28 Pebruari silam.

Saat ditemui dalam sel tahanan Polres, Senin (6/3/2017), keempatnya mengaku hanya merupakan perantara dalam transaksi dua paket Narkoba namun diproses hukum, sementara pemilik sabu yang mereka sebut sebagai bandar hanya dimintai keterangan lalu dilepaskan, sedangkan salah seorang yang memberikan  kepada mereka hanya dibiarkan.

Muat Lebih

“Usro yang menelpon ambil barang sama Apri, tapi dua orang itu tidak ditahan, padahal barang dari Apri,” kata Irpan kepada media ini saat ditemui disel tahanan Polres Tolitoli. Irpan yang merupakan mahasiswa disalah satu universitas di Tolitoli mengaku ditangkap saat ia sedang nongkrong disalah satu Warung kopi, kemudian ditelpon oleh Danli alias Usro yang disebutnya sebagai bandar, ia mengaku dimintai tolong untuk menjemput barang dari seseoran bernama Apri yang tinggal di Kampung Buol Kelurahan Panasakan.

“Setelah barang itu saya ambil dari Apri kemudian saya diarahkan untuk mengantarnya kepada seseorang bernama Hani di tanah abang kelurahan Tuweley. Sampai di sana, Hani tidak ada di tempat, katanya sedang keluar ke rumahnya Even,” cerita Irpan.   Dituturkannya, ia tidak mendapati Hani namun secara kebetulan, Wawan sedang berada dirumah tersebut.

“Wawan bilang ke saya, kebetulan saya mau ke rumahnya Epen ketemu sama Hani, nanti dia katanya yang antar barang itu. Saya kemudian telpon Usro, dia bilang titip saja sama Wawan,” tutur Irpan sembari menerangkan perannya hanya sampai disitu saja.

Pada kesempatan yang sama, Wawan salah satu pelaku yang ditangkap mengaku, ia hanya menawarkan kebaikan untuk mengantarkan barang tersebut ketempat yang dimaksud. Setibanya ditempat yang dituju, Wawan mengaku barang tersebut diberikan kepada Wandi.

“Sampai di rumahnya Epen, dorang bilang itu barang kase sama Wandi, abis itu saya langsung pulang,” cerita Wawan yang mengaku masih merupakan mahasiswa semester empat. Saat dimintai keterangannya, Wandi mengaku setelah mendapatkan barang haram tersebut, ia kemudian bergegas menemui Abusalam di Desa Kalangkangan untuk memberikan barang (sabu reed).

Sementara, Abussalam membenarkan memesan barang haram itu, namun menurutnya barang tersebut atas permintaan seseorang bernama Dila yang menghubunginya berkali-kali lewat telponnya.

“Dila beberapa kali telpon saya, suruh carikan barang, begitu saya dapatkan, saya telpon, tapi sudah polisi yang datang dan menangkap saya,” terang Abussalam.

Atas kronologis tersebut, saat ditemui di sel tahanan kemarin, keempatnya meminta Polisi juga turut menahan dua pelaku lain yang salah satu diduga kuat merupakan bandar. Apalagi sesuai jejak rekamnya, Usro sempat diproses hukum karena kepemilikan sabu.

“Polisi jangan tebang pilih, kalau alasan tidak cukup bukti, berarti saya juga tidak cukup bukti untuk ditahan, saya kan cuma dimintai tolong,” ujar Irpan.

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut Kasat Narkoba Iptu  Besrom Purba SIK menerangkan, pihaknya telah memanggil Danli namun menurutnya karena alat bukti dan keterangan cukup lemah sehingga pihaknya tidak melakukan penindakan. “Sudah kita panggil, tapi keterlibatan Danli dalam hal itu tidak cukup kuat untuk ditindaklanjuti,” jelas Kasat Narkoba.

Ditanya mengenai Apri salah seorang yang disebut sebagai sumber barang haram itu, katanya baru mengetahui hal tersebut dan akan memintai keterangan terhadap yang bersangkutan.

“Nanti kita akan cari, tinggal tunggu saja perkembangannya,” jelas Besrom Purba.

Menanggapi sikap dan tindakan Sat Narkoba dibawah kepemimpinan Besrom Purba yang terkesan setengah hati, tebang pilih dan tidak konprehensif dalam  melakukan penindakan. Direktur Operasional Yayasan Dopalak Indonesia (YDI) Marjan Hidayat mengatakan, hal tersebut dapat mencederai dan mematahkan upaya serius Kapolres Tolitoli AKBP Faizal Ramadhani memberantas dan memerangi peredaran Narkoba dikabupaten Tolitoli.

“Program Kapolres Tolitoli seperti, membentuk desa dan duta anti Narkoba disetiap desa dan kecamatan, kemudian penyuluhan disemua lembaga pendidikan bisa jadi akan sia-sia. Sebab seberapa banyak pun para pengedar yang tertangkap, akan muncul pengedar baru  jika bandar dan pemasoknya tetap aman melakoni perannya,” kata Marjan saat dimintai tanggapannya.

Belum lagi menurut Marjan, dugaan adanya oknum aparat yang diduga melindungi para bandar dan peredaran Narkoba. “Terbukti ketika Kapolres melibatkan seluruh satuan melakukan upaya pemberantasan Narkoba, hasilnya cukup signifikan, barang bukti dalam jumlah besar bahkan deretan nama bandar yang santer disebut masyarakat berhasil diamankan,” tutupnya. ***

Reporter: romi tolis

 

Pos terkait

banner 580x60