Pengunjung Kafe 168 House Tewas

  • Whatsapp


SALAH Seorang pengunjung
di sebuah tempat hiburan malam (THM) di Jalan Setia Budi, Kota Palu, ditemukan
tewas, Rabu (19/6/2019) pagi sekitar pukul 06.00 Wita.

Korban berinisial EV (35) diduga
merenggang nyawa setelah menegak minuman keras (Miras) yang dijual di THM Cafe
168 House tersebut.

Data yang didapatkan di Polres Palu,
korban yang  karyawan dealer mobil di
Kota Palu, awalnya datang ke THM bersama beberapa rekannya.

Hasil pemeriksaan penyidik terhadap
rekan korban yang juga sebagai saksi bernama Akbar, saat itu Selasa malam
(18/6) sekitar pukul 22.00 WITA, dia bersama beberapa rekannya sedang bersantai
dan menikmati beberapa botol Miras yang dipesan di THM tersebut.
Tidak lama kemudian sekitar pukul
24.00 korban (EV) datang bersama seorang rekannya bernama Willy. Sambil
bercerita diselingi dengan mengonsumsi Miras. Korban juga ikut mengonsumsi
Miras yang sama yang dikonsumsi rekan-rekannya. Sekitar pukul 03.00 WITA korban
kemudian berbaring di kursi yang ada di THM.
Beberapa rekan korban mengira korban
sedang mabuk berat sehingga tertidur pulas. Rekan korban kemudian pulang dan
meninggalkan korban di THM. Kemudian sekitar pukul 06.00 salah seorang rekan
korban yang mengetahui korban masih tertidur di THM kemudian hendak menjemput
korban untuk dibawa pulang ke rumahnya.
Rekan korban mencoba membangunkan
korban, bahkan seorang sekuriti THM juga ikut melihat korban saat hendak
dibangunkan, tapi tidak juga terbangun dan ternyata korban sudah tak menyawa.
Sementara itu Kapolres Palu AKBP
Mujianto, membenarkan korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia di
THM. Mendapat laporan tersebut tim identifikasi Polres Palu melakukan olah TKP.
“Mendapat informasi tim identifikasi
langsung ke TKP dan jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk divisum. Pihak
keluarga tidak mengizinkan untuk diotopsi. Penyidik minta keterangan beberapa
saksi yang ada di TKP,” terangnya.
Keberadaan Kafe 168 House telah lama mendapat sorotan
warga. Aktivitas di 168 house sangat merugikan dan mengganggu warga sekitar.
Beberapa waktu lalu, anggota DPRD Kota Palu Iqbal Andi
Mangga sudah turun langsung membuktikan kebenaran laporan tersebut dan memang
sangat menggangu ketertiban umum.
Ketertiban umum yang dimaksud Ketua Dewan Masjid Indonesia
(DMI) Kota Palu itu yakni kenyamanan warga dan keselamatan tempat tinggal warga
di sekitar tempat hiburan tersebut.
“Suara sound system di 168 house yang keluar sangat
mengganggu. Apalagi aktivitas menyanyi di sana makin  larut malam makin
rame dan ribut. Padahal malam hari itu waktu beristirahat. Warga tidak bisa
beristirahat dengan tenang karena itu,” ujar anggota Fraksi Golkar itu.
Belum lagi getaran suara dari alat musik yang dimainkan di
sana mengakibatkan bangunan warga, baik di sekitar 168 house apalagi yang
berdempetan langsung bergetar.
“Kalau bass dan drum itu dimainkan akan menyebabkan
bangunan di sekitar bergetar. Itu sangat berbahaya sebab akan menyebabkan
keretakan pada bangunan,” imbuh Iqbal.
Ikbal menyesalkan permainan musik yang disuguhkan di sana
tidak dilakukan di ruang tertutup atau jauh dari rumah warga. Belum lagi banyak
warga Palu yang masih berduka pascabencana sehingga sangat tidak etis
aktivitas-aktivitas seperi itu dilakukan dalam suasana duka.
“Kalau tempat hiburan seperi itu harusnya dilakukan di
ruang tertutup agar suaranya tidak keluar kemana-mana dan diredam. Kemudian
tempat seperi itu biasanya letaknya jauh dari kawasan padat penduduk. Tapi ini
tidak,” sesal Iqbal.
Olehnya Iqbal meminta Pemkot Palu untuk meninjau kembali
izin usaha 168 house sebab diyakini banyak pelanggaran yang terjadi di sana di
antaranya izin usaha yang dimanfaatkan tidak sesuai dengan peruntukannya.
“Yang saya tahu izin usahanya adalah restoran dan
karaoke, Bukan klub malam. Tapi aktivitasnya, aktivitas klub malam. Masa ada
restoran buka sampai jam 3 dinihari. Belum lagi kendaraan milik
pengunjung  diparkir di jalan.  Ini kan melanggar,”terang Iqbal.
Senada dengan Iqbal, anggota DPRD Palu dari Fraksi
Hanura Hamsir juga mendukung upaya tersebut. Menurutnya kegiatan semacam
itu tidak boleh dilakukan di ruang terbuka apalagi sampai mengganggu warga yang
tinggal di sekitar tempat itu.
“Kita sudah pernah hearing (rapat dengar pendapat)
tapi tidak ada dari pihak 168 yang hadir. Warga juga sudah pernah melaporkan
kepada pihak berwajib tapi saya belum tahu bagaimana tindak lanjutnya
sekarang,” kata ujar Hamsir.
Salah satu warga di sekitar tempat hiburan itu, Nunung
mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhannya kepada pihak 168 house.
“Tapi tidak digubris. Saya dan warga yang lain sudah
mencoba meminta mereka memperlihatkan izin usahanya kepada kami karena kami
yakin antara izin usaha dan aktivitas di sana tidak sesuai. Tapi tidak
diperlihatkan,” aku Nunung.
Tempat tinggal Nunung berada tepat di belakang 168 house.
Sejak keberadaan tempat hiburan itu, Nunung mengatakan anggota keluarga tidak
dapat beristirahat dengan tenang saat malam hari.
“Nanti coba cek sendiri di sini. Lihat dan dengar
sendiri ributnya suara di 168 house dari rumah kami kalau malam hari. Apalagi
di sini ada anak kecil. Saya yakin kalai anda yang tinggal di sini tidak akan
tenang dan betah,”ujar Nunung.
Nunung dan warga lainnya berharap Pemkot Palu dapat
menindak tegas aktivitas yang dilakukan di tempat hiburan tersebut sebab sudah
merugikan  dan menggangu ketertiban umum di kawasan itu.**

Pos terkait

banner 580x60