Mengapa Penetapan 1 Ramadhan di Indonesia Sering Berbeda?
Di Indonesia, perbedaan penetapan awal Ramadhan antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah sering terjadi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah.
Pemerintah dan NU cenderung menggunakan metode rukyatulhilal dengan melihat hilal secara langsung. Jika hilal belum terlihat pada 29 Syaban, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadhan bergeser ke hari berikutnya. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab yang menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan posisi hilal tanpa perlu melihat langsung.
Sebagai contoh, pada tahun-tahun sebelumnya, perbedaan penetapan awal Ramadhan telah beberapa kali terjadi, di mana sebagian umat Islam di Indonesia telah memulai puasa lebih awal sementara yang lain menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Dari penjelasan di atas, penetapan awal Ramadhan 1446 H/2025 di Indonesia masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah melalui sidang isbat. Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 28 Februari 2025 berdasarkan metode hisab. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah akan menentukan tanggal pasti setelah melakukan rukyatulhilal.
Perbedaan dalam metode penentuan awal Ramadhan merupakan hal yang telah terjadi di Indonesia, di mana sebagian pihak menggunakan metode hisab dan sebagian lainnya mengandalkan rukyatulhilal. Meskipun demikian, umat Islam di Indonesia tetap menjalankan ibadah Ramadhan sesuai dengan ketetapan yang berlaku di masing-masing lembaga keagamaan. ***
Sumber: detik.com







