Penyintas Mamuju Resah Soal Berita Hoax; Untungnya Apa, Kami yang Panik

  • Whatsapp
banner 728x90 banner 728x90 banner 780x80

Mamuju,- Para penyintas gempa di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) sangat menyayangkan adanya oknum tak bertanggung jawab yang membuat berita tidak benar atau Hoaks terkait adanya bencana yang akan terjadi di Sulbar.

Bacaan Lainnya

Astuti (46) penyintas di posko jalan Husni Thamrin, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, misalnya. Ia mengaku sangat geram dan heran dengan oknum-oknum yang tega menyebarkan berita-berita tidak benar di tengah bencana yang baru saja terjadi dan situasi yang masih mencekam.

“Saya sebenarnya bingung sama orang-orang yang suka bikin hoax soal gempa. Pagi tadi misalnya, ada tersebar berita di medsos soal adanya potensi gempa lebih besar dari Palu (Sulteng) yang akan terjadi di Mamuju. Sebenarnya untungnya buat mereka apa? yang ada hanya mendapat dosa karena kita di pengungsian jadi panik,” terang Ibu dua orang anak itu di Posko Pengungsian, Minggu (17/01/2021) malam.

Ia mengungkapkan, di posko pengungsiannya tersebut, ada beberapa keluarga yang memilih meninggalkan Mamuju Kota karena percaya dengan berita hoax beredar.

“Tadi pagi saja sudah ada dua keluarga disini yang nekat pergi dari wilayah Mamuju karena merasa tidak aman. Bahkan mereka rela numpang di mobil relawan Palu supaya bisa mengungsi di rumah keluarganya di Pasangkayu,” sebut Astuti.

Sementara itu, Kepala Bidang Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya, menegaskan kepada masyarakat agar waspada terhadap berita super hoax.

“BMKG tidak pernah memerintahkan eksodus pindah keluar wilayah. Himbauan kami saat bencana adalah evakuasi untuk menyelamatkan diri bukan eksodus. Misalnya bangunan rumah sudah rusak jangan ditempati maka perlu evakuasi ke tempat evakuasi sementara/permanen yang lebih aman,” terang Daryono.

Kemudian jika terjadi gempa kuat di pantai dianjurkan, sebut Daryono, agar masyarakat segera melakukan evakuasi mandiri dengan cara menjauh dari pantai.

“Evakuasi mandiri dilakukan dengan cara menjadikan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami. Hal ini efektif jika sumber gempa kuat dekat pantai karena waktu emas penyelamatan tsunami sangat singkat,” tandasnya.***

Reporter: Indra Setiawan

Pos terkait

banner 780x80