SULTENG – Warga Sulawesi Tengah hanya akrab dengan nama Sesar Palu Koro. Sesar inilah yang memicu gempa bumi tsunami dan likuifaksi dengan tingkat getaran 7,4 SR (2018) silam. Ternyata, Sulteng memiliki ratusan sesar, salah satunya Sesar Sausu.
Sesar Sausu menurut BMKG adalah pemicu gempa 16 Juni 2026, Selasa pukul 11.37 Wita berskala 6,7 SR. Sesar ini karakternya menimbulkan gempa bumi kuat karena dangkal dengan kekuatan signifikan.
Perlu menjadi pemahaman bersama Mitigasi bencana, bahwa Sesar Sausu adalah sesar aktif yang berada di daratan. Bukan di lautan. Mekanisme kerja patahannya menurun. Atau normal fault. Lantas apa yang membuat Sesar Sausu berbahaya? Karena letaknya di daratan dan dangkal dari perut bumi, maka memiliki potensi guncangan kuat. Dampaknya menimbulkan bangunan di atas tanah mudah roboh, dan rusak. Guncangan ini tak menimbulkan tsunami.
Untungnya, Sesar Sausu adalah jalur mandiri. Apa maksudnya? Menurut BMKG jalur mandiri adalah sesar yang berdiri sendiri. Ketika tiba tiba aktif secara teori sangat kecil berpengaruh ke sesar sesar lainnya. Termasuk ke Sesar Palu Koro. Sehingga tak perlu terpengaruh dengan analisa analisa yang menghubung – hubungkan getaran dangkal Sesar Sausu menyulut keaktifan Sesar Palu Koro.
Dengan pemahaman dan mitigasi bencana ini, dapat menjadi literasi seluruh stakeholder untuk dapat memberikan penjelasan secara ilmiah berbasis data BMKG dan memahami karakter dan bahaya semua sesar yang ada di wilayah Sulteng. ***








