SULTENG – Anggaran Pendapatan dan Belanja Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2026 sangat rawan. Pendapatan yang diperoleh hingga 31 Mei 2026 baru mencapai 26,17 persen. Sedangkan belanja pegawai capai 67,15 persen (Rp3,75 triliun).
Perolehan Pendapatan masuk kategori kontraksi sebesar 12,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, pendapatan sebesar 12,6 persen itu hanya didominasi
dana transfer (TKD) pemerintah pusat sebesar Rp4,48 triliun, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya mencapai Rp1,06 triliun.
Demikian keterangan gamblang Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Satu Provinsi Sulawesi Tengah sekaligus Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Tengah, Teddy Suhartadi Permadi, dalam kegiatan Jurnalis Update Triwulan II Tahun 2026 yang diselenggarakan OJK Perwakilan Sulteng di Yolks Coffee and Koloni, Kamis (2/7/2026), dikutip dari wartasulawesi.com
Kondisi itu membuat tingkat kemandirian fiskal Sulteng rawan alias masih rendah, yakni hanya 19,06 persen. Fakta lainnya, belanja APBD Sulteng terealisasi Rp5,59 triliun atau 24,83 persen dari pagu anggaran dengan pertumbuhan 2,35 persen secara tahunan.
Namun, komposisi belanja masih didominasi belanja operasi, khususnya belanja pegawai yang mencapai Rp3,75 triliun atau sekitar 67,15 persen dari total belanja APBD.
DEFISIT APBD
Berdasarkan fakta – fakta di atas realisasi pendapatan dan belanja hingga 31 Mei 2026, APBD Sulteng masih mencatatkan defisit sebesar Rp28,59 miliar. Sangat berbanding sebaliknya dengan TA 2025 lalu.
ANOMALI BERUNTUN
Fakta di atas kembali menunjukkan anomali beruntun. Bahwa pertumbuhan
dari sisi ekonomi makro, Sulteng tetap menunjukkan performa yang menggembirakan.
Pertumbuhan ekonomi daerah hingga Mei 2026 mencapai 8,32 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Capaian tersebut menempatkan Sulteng sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat, kata Teddy.
Pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang sektor industri pengolahan, terutama komoditas besi baja, nikel, dan kokas. Selain itu, aktivitas belanja pemerintah melalui APBN dan APBD juga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. ***








