Gubernur Anwar Hafid Punya Target Ciptakan Ribuan Petani Milenial dan Gen Z 

  • Whatsapp
Gubernur Sulteng Siapkan Petani Milenial dan Gen Z mendukung provinsi melawan ekstraktifistik pertambangan alam yang merusak lingkungan. desain/kailipost

TOILI, BANGGAI, 30 September 2026 – Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah Anwar Hafid, dua hari (28-30/9/2026) ‘mengurung’ dataran Toili Raya Kabupaten Banggai. Ia menyadari tantangan masa depan dunia, Indonesia dan Sulteng adalah ledakan bonus demografi. 

Diprediksi, jumlah usia remaja hingga dewasa (17-30 tahun) yang dikenal milenial dan Gen Z sebesar 63 % total jumlah penduduk Sulteng di tahun 2045. Olehnya, ia menyiapkan generasi pertanian. Generasi baru hijau. Atau dikenal petani milenial. 

Katanya, salah satu konsep role model masa depan dengan mengubah wajah pertanian agar lebih akrab dengan generasi muda. Salah satu caranya dengan mendorong modernisasi pertanian melalui Brigade Pertanian yang menyediakan berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk teknologi drone.

Pernyataan Anwar Hafid terekam wartawan ketika di Gerakan Percepatan Panen Padi “Berani Panen Raya” di Desa Rusa Kencana, Kecamatan Toili Raya (29/9/2026). Gubernur didampingi Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan.

Anwar melanjutkan idenya pertanian tidak boleh terus identik dengan cara-cara tradisional jika ingin menarik generasi muda. Karena itu, pemerintah mendorong penggunaan teknologi mulai dari traktor roda dua dan roda empat, mesin panen, hingga drone untuk pemupukan dan penyemprotan.

“Kalau pertanian sudah menggunakan alat dan teknologi, anak-anak muda juga akan tertarik menjadi petani. Inilah yang kita harapkan melalui petani milenial,” ujarnya.

Melalui Brigade Pertanian, alsintan nantinya tersedia dan dapat digunakan petani sesuai kebutuhan. Pemerintah juga mengubah pola pengelolaan dari hibah menjadi pinjam-pakai agar alat tetap dapat dipelihara dan diperbaiki melalui APBD ketika mengalami kerusakan.

“Bukan berarti alat ini tidak diberikan kepada petani. Tetapi mekanismenya bukan lagi hibah. Alat dipinjam-pakaikan, sehingga ketika rusak masih bisa diperbaiki pemerintah melalui APBD,” jelasnya.

Gubernur Anwar Hafid menegaskan, modernisasi bukan sekadar menghadirkan mesin ke lahan pertanian, tetapi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah persepsi generasi muda terhadap profesi petani.

Menurutnya lagi, dukungan pemerintah juga harus mencakup bibit, pupuk, alsintan hingga kepastian harga gabah, sehingga bertani tidak hanya menjadi pekerjaan tradisional, tetapi profesi yang produktif dan memiliki masa depan.

Gubernur membuka ruang dialog melalui Rembuk Tani untuk mendengar langsung kebutuhan dan persoalan petani di lapangan.

Dengan potensi lahan pertanian yang luas, ia optimistis Sulteng dapat memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus melahirkan generasi petani baru yang lebih adaptif terhadap teknologi. *** 

Berita terkait