PSI dan Ali; Berkah atau Musibah? 

  • Whatsapp


Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan partai politik baru anak muda. Sudah menjajal kontestasi elektoral nasional 2024. Bukan partai baru. Yang membawa idiom perjuangan politik milenial dan Gen Z.

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah menyebut ke pers (12/5/2026) hadirnya Ahmad Ali di PSI membawa ‘nafas baru’ yang disebut energi baru. Yaitu politik lebih lentur, lebih meluas jangkauan ke elemen sosial, daerah, segmentasi politik dan tokoh tokoh grass root. 

Usai keluar dari Partai Nasdem dan kini menduduki  posisi strategis sebagai Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali sangat potensial membawa energi baru sekaligus harapan baru buat partai tersebut, sebut Toto. 

“Sebagai politisi senior, saya yakin Pak Ahmad Ali punya potensi kuat yang menambah magnet untuk menjadi sumber energi baru di PSI,” yakinnya. 

Toto mengaku yakin, Ahmad Ali pasti  punya tantangan, sekaligus beban dan tanggungjawab moral dan profesional untuk membesarkan PSI. Ia akan membuktikan bahwa dirinya mampu memberi warna baru sebagaimana ia telah membuktikannya saat menjadi elit politik di partai Nasdem. 

Menurut Toto, perpindahan Ahmad Ali dari Nasdem ke PSI harus dibaca sebagai perpindahan jaringan, pengalaman, cara kerja dan daya jangkau sosial. Kebetulan, perpindahan dengan misi seperti itulah yang sebenarnya sedang ditunggu PSI. 

“Selama ini, PSI itu kan dikenal sebagai partai yang kuat dalam citra modern, urban, digital, dan anak muda. Meskipun, sampai sekarang citra itu belum berbanding lurus dengan hasil. Bahkan, dalam beberapa kasus, citra itu justru menjadi keterbatasan ruang gerak PSI,” jelasnya. 

Toto menilai, PSI secara sosiologis cukup kuat di ruang media, tetapi tidak mengakar di kampung politik. Cukup nyaring di isu publik, tetapi belum efektif membangun simpul elektoral. Cukup agresif dalam wacana, tetapi belum sepenuhnya di terima di segmen muslim yang mayoritas, tokoh daerah, komunitas tradisional dan civil society yang lebih luas. 

Data Pemilu 2024, menurut Toto, adalah cermin paling jujur, bahwa PSI harus puas dengan 4,26 juta suara (2,806% suara sah nasional). Sehingga, gagal melewati ambang batas parlemen 4 %. 

“Ini artinya, masalah utama PSI bukan sekadar kurang populer, tetapi belum cukup berhasil mengubah popularitas menjadi penerimaan sosial yang luas sebagai elektabilitas,” ungkapnya. 

Dalam konteks itulah, lanjut Toto, kehadiran Ahmad Ali menjadi penting dan relevan dalam upaya memperluas napas PSI. Ia datang dari tradisi politik Nasdem yang lebih lentur, lebih berpengalaman dalam konsolidasi struktur, dan lebih terbiasa menjalin komunikasi lintas kekuatan.

Dengan bekal itulah, kata Toto, Ahmad Ali potensial menjadi figur yang menjembatani kebutuhan itu. Ini karena Ahmad Ali punya pengalaman parlementer, organisasi, jaringan daerah, hubungan dengan elit politik nasional dan kedekatan dengan sejumlah simpul sosial yang selama ini tidak terjamah PSI.

Toto berpendapat, minimal ada tiga kelebihan dari Ahmad Ali. Pertama, punya kempampuan konsolidasi politik, karena ia bukan politisi wacana, tetapi politisi lapangan.  

Kedua, memiliki daya komunikasi lintas segmen. Sehingga, bisa membantu PSI memperluas bahasa politiknya. Tentu, bukan untuk mengubah PSI menjadi partai oportunistik, tetapi menjadi partai yang lebih komunikatif.

Dan ketiga, lanjut Toto, Ahmad Ali punya pengalaman membaca realitas elektoral. Sehingga, ia tahu bahwa politik bukan hanya soal benar secara moral, tetapi juga diterima secara sosial.

Meski begitu, Toto mengingatkan agar Ahmad Ali benar-benar menjadi berkah buat PSI, dan tidak sebaliknya menjadi musibah. Apalagi, dalam konteks Ahmad Ali sebagai politisi elit lama yang, jika tidak cerdas memposisikan dirinya, potensial mengubah citra PSI yang muda, modern, dan pro perubahan.

Karena itu, Toto menegaskan,  masuknya Ahmad Ali ke PSI ini bisa menjadi peluang besar, sekaligus menjadi ujian besar. Salah satu tantangannya adalah menyatukan  energi seluruh anak muda PSI dengan jaringan sosial-politik yang lebih luas. 

“Sebagai politisi senior, Ahmad Ali punya kemampuan untuk memperbaiki kegagalan 2024. Termasuk, dengan tidak lagi membiarkan PSI terjebak pada politik gaduh lewat  figur kontroversial seperti Ade Armando yang mudah melukai kelompok lain,” ungkapnya. *** 

Berita terkait