
Pertama; figur politik perempuan di Lembah Palu yang menonjol saat ini hanya Wakil Gubernur Reny A Lamadjido dan Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin. Elektabilitasnya mendekati satu digitlah. Bukan ribuan lagi.
Munculnya Diah Puspita dengan privilege sang suami yang tengah memuncak elektabilitasnya sebagai orang pertama di Palu makin berkembang, adalah momentum yang tepat. Tak ada salahnya, diawali dari kemudahan, keuntungan akses khusus akibat menjadi istri pejabat politik yang sukses.
Kedua; Diah dapat menjadi kekayaan khasanah politisi perempuan Lembah Palu pusaran kota. Tanpa menafikkan ada beberapa politisi perempuan yang berkiprah di level nasional seperti Nilam Sari Lawira, Zul Zalmida Aladin, Vera Rompas di level provinsi.
Diah dapat mengikuti jejak politik Vera Rompas istri mantan Gubernur Rusdi Mastura. Karena patron klien politik di lembah Palu sangat dominan politik paternalistik.
Ketiga; sebagai new entry di dunia politik, Diah pasti akan bergabung ke organisasi organisasi kemasyarakatan (Ormas), atau lembaga UMKM dan pada waktunya akan menjadi kader partai politik. Selain menambah jejaring juga pundi pundi dari talentanya di dunia politik. Diah akan menambah cita rasa dan pilihan serta warna baru di kancaj politik kontemporer Kota Palu. ***







