HUT Donggala, Dua Kali Diguncang Gempa

  • Whatsapp

Mengingatkan Gempa Tambu, Agustus 51 tahun silam

Muat Lebih

Reportase: Ikhsan Madjido

Kabupaten Donggala memperingati HUT yang ke-67, Senin
(12/8/2019). Perayaan Puncak Hari jadi Kabupaten Donggala tersebut, berlangsung
khidmat di Jl. Gunung Bale Halaman Kantor Bupati Donggala, Senin (12/8) Pukul
10.00 Wita.

Sore hari pukul wilayah Donggala dua kali diguncang
gempa. Pukul 17.19 Wita dan 17.25 Wita.

Hasil analisis Badan meteorologi klimatologi dan
Geofisika stasiun Geofisika klas I Palu, gempa pertama berkekuatan 2.9 Skala
Richter, terjadi pada pukul 17.19 WITA, dengan kedalaman 5 km, dan 6 km arah utara
Toaya Kabupaten Donggala atau dititik 0.55 LS – 119.78 BT.

Sementara gempa yang kedua, dengan kekuatan 3.4 Skala
Richter terjadi pada Pukul 17:25 WITA, dengan kedalaman 3 km, dan 18 km arah
barat laut Kabupaten Donggala, Selat Makassar atau dititik 0.56 LS – 119.63 BT.


Gempa ini mengingatkan gempa dan tsunami Tambu 15
Agustus 1968 yang menyebabkan korban jiwa 200 orang.

Dikutip dari Jefriantogie.blogspot.com, Surat kabar
Nieuwsblad van het Noorden edisi 23 Agustus 1968, dalam beritanya terkait gempa
dan tsunami, yang meluluhlantakkan kawasan pantai barat Kabupaten Donggala
tahun 1968 mencatat, ada dua periode gempa bumi yang disertai tsunami, dalam
selang waktu empat hari, menghajar kawasan tersebut, yakni 10 dan 14 atau 15
Agustus.

Hal ini juga tercatat dalam dalam Newsletter, Vol. I No.
3 (5 September 1968), yang diterbitkan International Tsunami Information Center
di Hawaii, di mana tercatat dua kali gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada
1968, sebagaimana dikutip dari Historia.Id.

Dari sumber yang sama, terungkap pada 10 Agustus 1968,
terjadi gempa bermagnitudo 7,3 dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Surat kabar
Nieuwsblad van het Noorden sendiri menjelaskan gelombang pasang (tsunami)
menyebabkan 500 orang hilang, setelah gelombang pasang tersebut melanda pulau
Tuguan (dekat Panggalasiang) di lepas pantai barat laut Sulawesi. 

Gelombang ini
adalah hasil dari gempa bumi kuat yang melanda daerah itu sejak 10 Agustus.

Masih dari surat kabar yang sama disebutkan, pada awal
minggu, Departemen Sosial di Jakarta mengumumkan bahwa 200 orang telah tewas
dalam gempa bumi pada 15 Agustus di daerah pesisir Donggala di Sulawesi Tengah.

Majalah Tempo pada 1978 memberitakan, tsunami yang
menghantam Pantai Donggala, Teluk Mapaga, dan Pulau Tuguan setinggi 8-10 meter,
melabrak pantai sampai sejauh 300 meter. Akibatnya 800 rumah hancur dan 200
orang meninggal dunia.

Gempa kedua terjadi pada 14 Agustus 1968 bermagnitudo
7,4, dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Kantor berita Antara melaporkan,
gempa ini menghasilkan gelombang tsunami besar yang mengakibatkan Pulau Tuguan
tenggelam sepenuhnya dan menghilang.

74 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini masih punya
setumpuk pekerjaan rumah, salah satunya adalah manajemen bencana.

Untuk itu, bersamaan dengan momen HUT ke-74 RI, Kaili
Post mengangkat tema lewat tagar #sultengmerdekadaribencana.

Selama mindset kita dalam menghadapi bencana masih
‘menunggu’ bencana terjadi, dengan berfokus hanya pada fase emergency response, maka sama artinya
kita masih belum merdeka dari bencana.

Karena secara mentalitas sudah kalah oleh bencana.

Bila kita ubah mindset kita, satu-dua langkah di depan
potensi ancaman bencana, dengan berfokus pada upaya mitigasi dan kesiapsiagaan
bencana, maka secara mental kita akan lebih tangguh, dan ketangguhan itulah
yang mendorong kita bisa merdeka dari bencana.**

Pos terkait

banner 580x60