PALU, 26 Oktober 2026 – PT Bank Sulteng masuk kategori perbankan sehat versi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum lama ini. Memiliki aset Rp16,2 triliun, menyalurkan kredit Rp9,01 triliun dan menyimpan dana pihak ketiga Rp9,6 triliun.
Guna terus meningkatkan kinerja perbankan dan perkembangan tehnologi digital, bank milik rakyat Sulawesi Tengah kini melakukan up grading pelayanan dan fitur digital. Maintenance dilakukan sejak 1 Oktober 2026 lalu. Hal itu sesuai dengan Security Asset Effect dan surat Bank Indonesia.
‘’Layanan tetap berjalan normal ke ATM, tarik tunai, dan transfer antar bank boleh silakan dulu ke kantor cabang terdekat. Mohon maaf apabila terganggu kenyamanan,’’ kata Direktur Utama PT Bank Sulteng Hj Ramiyatie, SE didampingi Direktur Kepatuhan Judy Koagow SE dan jajaran komisaris kepada pimpinan media online dan elektornik di Workshop Bank Sulteng pagi ini.
Sebagai kompensasi peningkatan kualitas jasa layanan dan kepercayaan, Bank Sulteng membuka layanan hingga malam hari, dan buka pelayanan Sabtu dan Minggu. ‘’Iya kita tetap memberikan kenyamanan di tengah sedang meningkatkan ketahanan infrastruktur digital Bank Sulteng. Kalau ada itu kasuistik ya. Mungkin saat itu jaringan karena sering pemadaman listrik, kemarau, atau gangguan lain. Bukan lockdown itu tidak benar dan hoaks,’’ tandas Ramiyatie.
Ditambahkan Judy, Bank Sulteng adalah bank sehat. Data September 2026 lalu, laba mencapai Rp306 miliar dari target Rp400 miliar 2026. Menyalurkan kredit dengan berbagai layanan total Rp9,01 triliun, dan total aset Rp16,2 triliun.
Dengan kepercayaan itu, Bank Sulteng diwajibkan menjaga sekuritas bank dengan meningkatkan ketahanan infrastruktur digital. Tujuan, meningkatkan kenyamanan transaksi digital. ‘’Kita berharap maintenance segera mendapat kelayakan dari assessor BI. Kami berharap secepatnya,’’ tandas Judy yang dikenal akrab dengan wartawan. ***










