Tausiyah Ramadhan: Puasa Bicara

  • Whatsapp

DOSA Yang paling banyak dilakukan anak cucu adam adalah pada lidahnya.

Disamping pengendalian pikiran, yang juga amat
penting bentuk konkretnya ialah menahan mulut untuk tidak berbicara, apalagi
jika pembicaraan itu menjurus kepada ajakan diri sendiri atau orang lain untuk
berpaling meninggalkan kedekatan diri dengan Tuhan.

Kita bisa menyimak hikmah mengapa Allah tidak
memerintahkan Maryam berpuasa kecuali menahan diri tidak berbicara sebagaimana
firman-Nya, “Maka katakanlah, ‘Sesungguhnya
aku bernazar untuk berpuasa karena Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan
berbicara dengan seorang pun pada hari ini.’”
(QS Maryam [19]: 26).

Puasa bicara atau diam salah satu resep untuk
meraih ketenangan batin yang pada akhirnya menjanjikan ketakwaan sebagaimana
tujuan puasa. Resep ini diajarkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Zakariya.

Saat itu, Nabi Zakariya dan istrinya tak pernah
berhenti berdoa untuk memiliki anak meskipun keduanya sudah berusia lanjut. Dia
bernazar, sekiranya bisa dikaruniai anak maka dia akan berpuasa bicara selama
tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Zakariya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Tuhan
berfirman: tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakapcakap dengan
manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.”
(QS Maryam [19]: 10).

Akhirnya, doanya dikabulkan dan nabi zakariya pun
menunaikan nazarnya. puasa bicara ternyata bukan pekerjaan mudah bagi orang
normal. allah swt pun mengingatkan agar manusia hati-hati soal bicara,
sebagaimana firman-nya, “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada allah dan katakanlah perkataan
yang benar.”
(QS al-Ahzab [33]: 70).

Dalam hadis nabi disebutkan, “Barangsiapa yang beriman kepada allah dan rasul-nya maka
hendaklah dia mengatakan yang benar atau lebih baik diam.”
Nabi juga
mengingatkan kita, “Sesungguhnya,
dosa yang paling banyak dilakukan anak cucu adam adalah pada lidahnya.”
“musibah itu terwakili melalui ucapan.”

“Sesungguhnya, dosa yang paling banyak dilakukan anak cucu adam
adalah pada lidahnya.” “barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga
kekeliruannya. barang siapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya.
barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat
tempatnya”.

Kalangan sufi pernah mengatakan bahwa diam adalah
keselamatan dan itulah yang esensial. orang-orang masih memperselisihkan, mana
yang lebih utama antara diam dan bicara. yang lebih tepat sesungguhnya ialah
masing-masing antara diam dan bicara memiliki keutamaan dibandingkan dengan
yang lain tergantung pada situasi dan kondisinya. Diam lebih utama dilakukan
pada situasi dan kondisi tertentu dan pada situasi lain justru bicara lebih
utama.

Namun, tidak selamanya diam itu baik. Ada kalanya,
seseorang harus dan wajib bicara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana
sabda Nabi, “Katakanlah kebenaran
itu meskipun pahit.”

Basyar al-hafi pernah mengatakan, “Jika suatu pembicaraan membuatmu
terkagum-kagum, sebaiknya anda diam saja. dan jika diam justru membuatmu
terkagum-kagum maka sebaiknya anda angkat bicara.”

Puasa bicara termasuk juga dalam konteks
penggunaan multimedia di dalam menyampaikan hal-hal khusus kepada orang lain. Penggunaan
IT dalam menyampaikan maksud sesungguhnya juga merupakan bentuk lain dari
bicara. Hanya bicaranya di dalam bentuk komunikasi nonverbal. Efek penyampaian
pesannya bisa sama saja dengan penyampaian pesan dalam bentul oral atau
visual.**

@Day 15 Ramadhan

banner 300x90

Pos terkait

banner 580x60