Ada Korupsi di Parkir Pasar Simpong Luwuk?

  • Whatsapp

Kontributor/luwuk: Taufik Zumri
Laumarang

SETIAP Pagi hingga
petang tak kurang ratusan kendaraan roda dua dan roda empat berjejer. Tak
peduli hari kerja hingga hari libur. Berapa kira-kira pendapatan dari sektor
retribusi parkir di Pasar Simpong Luwuk Kabupaten Banggai? Apa benar yang
dipungut dari jasa parkir itu juga masuk ke kas daerah? Berikut penulusuran
kontributor Kaili Post di Kota Berair Luwuk.
————————–
SEJUMLAH Warga Luwuk, khususnya pengunjung Pasar Simpong
mengeluhkan besaran tarif parkir dan tarif keluar Pasar Simpong. Tarif parkir
yang dibayar oleh pengguna kendaraan tidak sesuai dengan karcis restribusi yang
diberikan petugas parkir di lapangan. Pengguna kendaraan roda dua harus merogoh
saku celana Rp2 ribu/parkir. Anehnya, tertulis pada karcis tertera Rp1000.

Bila
selisih setiap kendaraan setiap parkir hampir 100 persen (Rp1000) maka berapa
kira-kira yang diduga menguap tak masuk ke kasa daerah.

Kondisi
serupa juga apabila warga yang akan keluar Pasar Simpong dan akan memasuki
Pelabuhan rakyat Luwuk. Dua punggutan restibusi ini hingga kini belum pula ada
perhatian Pemkab dan DPRD Banggai.

Kondisi
tersebut mulai dikeluhkan warga Luwuk. Tak hanya di Pasar Simpong. Bahkan di
semua titik lokasi parkir dalam Kota Luwuk baik itu di pusat pertokoan, rumah
makan, ataupun di pusat perbelanjaan Mal Luwuk.

Ironisnya,
kebanyakan petugas parkir dan petugas restribusi kendaraan dari Dinas
Perhubungan hanya memungut biaya tanpa memberikan karcis restribusi.

Sebut
Rara, salah seorang warga kepada Kaili Post mengeluhkan biaya parkir. Dia
merasa jengkel dengan ulah petugas parkiran. ‘’Pokoknya di pasar, di pertokoan
dimana saja so bikin jengkel ini tukang parkir. Baru dikasih dua ribu mau suru tambah. Dikasih
lima ribu tidak ada kembalian, teada karcisnya lagi,’’ ujar Rara.

Sementara,
warga lainnya Bambang Widyatmoko juga mengeluh hal senada. Bambang mengatakan,
faktanya demikian dan sudah lama berlangsung. Petugas parkir tidak pernah
memberikan karcis kalau tidak diminta. Padahal menurutnya, sudah menjadi
kewajiban seharusnya diminta atau tidak karcis harus diberikan termasuk yang di
pelabuhan rakyat.

Pantauan
Kaili Post di beberapa titik lokasi pasar Simpong, dalam sehari lebih kurang
1.000 kendaraan parkir atau masuk keluar Pasar Simpong. Banyaknya kendaraan
yang membayar tarif parkir, belum termasuk di beberapa titik lahan parkiran
lainnya di Kota Luwuk. Potensi korupsi dengan jasa parkir dari retribusi ini
sebaiknya segera mendapat perhatian serius pemangku kebijakan. Dapat
dibayangkan berapa hari dikalikan jumlah kendaraan yang parkir setiap bulan,
dikalikan setiap tahun?

Sophansyah
Yunan tokoh masyarakat yang juga tokoh Adat Kabupaten Banggai sejak lama sudah
miris dengan kondisi tersebut, tanpa ada perhatian aparat penegak hukum,
pemerintah dan DPRD. Ia mengatakan yang terjadi bukan lagi dugaan tapi sudah
benar-benar terjadi dugaan korupsi. 

‘’ini bukan lagi dugaan – dugaan tetapi
sudah benar-benar terjadi Karena kasat mata kita liat setiap hari. Yang perlu
ditambahkan dan dipertanyakan adalah sarana perparkirannya sudah layak? Jadi
jangan cuman tahu memungut tetapi kelayakannya tidak diperhatikan,”,
sorotanya dengan nada tinggi. **

Pos terkait

banner 580x60