Dua Tahun Pasigala, ACT Alliance Indonesia Berikan Layanan di 58 Desa

banner 780x80

Palu,- Selama dua tahun anggota ACT Alliance di Indonesia, yakni Church World Service (CWS), Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (PELKESI) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU), telah memberikan layanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa, tsunami dan likuefaksi di 58 desa di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

“Saat ini proses pemulihan masih berjalan, fase penanggulangan yang diberikan berupa bantuan dasar hidup bagi penyintas bencana, seperti intervensi pengelolaan penampungan darurat, pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, air bersih, perlengkapan kebersihan dan sanitasi, perbaikan infrastruktur dan layanan publik,” ujar Convener ACT Alliance Indonesia, Irawaty Manulang, Senin (12/10/20), saat konferensi pers.

Bacaan Lainnya

Sehingga, lanjut Irawaty, diawal masa tanggap darurat, ketiga lembaga merancang kegiatan respons untuk bisa memenuhi kebutuhan penyintas, serta melakukan koordinasi dengan pemerintah lokal, klaster dan
pemerintah pusat, terkhusus dengan CWS telah memiliki perjanjian kemitraan dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos).

Olehnya, kata dia, dalam pelaksanaan lanjutan, baik CWS, PELKESI dan YEU mulai menjalin kemitraan dengan institusi lokal, seperti dengan kader kesehatan, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), serta organisasi lokal, seperti Yayasan Dangau dan Yayasan Inanta yang bermitra dengan CWS.

“Memasuki masa pemulihan, ketiga organisasi mengarahkan prioritas kepada pembangunan peran dan. Semua dilakukan melalui proses panjang sosialisasi, pelatihan, praktik dan pengawasan dengan lebih menggali perspektif risiko bencana,” ujarnya.

Sementara, Otto Nodi Atyanto selaku Project Manager dalam kesempatan yang sama mengatakan, Penguatan Kapasitas Bidang Kesehatan (PELKESI) sejak Oktober 2018 hingga September 2019 tercatat 9.700 pasien yang telah dilayani, juga pemberian makanan berbahan lokal di 31 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) bayi dan balita, dan untuk lanjut usia melalui 12 Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu).

Selanjutnya, kata Otto Nodi, sebagai bagian dari kegiatan penyadaran tentang pentingnya kesehatan reproduksi, PELKESI mendistribusikan Feminine Kit kepada 9.600 perempuan usia produktif di sekolah, desa dan gereja, serta mendistribusikan tempat sampah khusus limbah kewanitaan di 10 desa.

“Bahkan, PELKESI telah mendistribusikan 52 tempat sampah di 10 desa dengan harapan membantu masyarakat melakukan manajemen limbah kewanitaan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah di lokasi tempat tinggal mereka,” lanjutnya.

Sedangkan, Harun Tambing selaku project CWS mengatakan, pada fase kedua, disaat pengungsi kembali ke desa masing-masing, fokus CWS beralih pada aspek pemulihan dan perbaikan kualitas hidup.

“CWS bersama dengan mitra, memulai langkah-langkah intervensi yang berkesinambungan melalui hunian sementara (huntara), Air, Sanitasi dan Kebersihan (WASH), dan pemulihan mata pencaharian, yang menandai berawalnya fase pemulihan,” ujarnya.

Selama fase pemulihan, kata dia, CWS dan mitra secara bersama-sama juga membantu membangun 428 hunian sementara. CWS dan mitra memprioritaskan pembangunan 388 toilet keluarga, yang mana 7 diantaranya didesain untuk mereka yang berkebutuhan khusus.

CWS bersama mitra juga telah membangun delapan sumur bor untuk 232 keluarga (825 penduduk) di empat desa, dan saluran pipa sederhana sistem gravitasi di empat desa, yang memenuhi kebutuhan air bersih bagi 1,059 keluarga (3,870 penduduk).

Sedangkan, pada masa awal tanggap bencana, YEU melakukan dukungan layanan kesehatan berupa fisioterapi dan kinesioterapi kepada 650 pasien, distribusi alat bantu bagi pasien pasca operasi dan penyandang disabilitas, pemberian sesi informasi terkait kesehatan dan sanitasi kepada 298 orang, serta enam kali sesi informasi dan edukasi kepada keluarga dengan disabilitas dan perwakilan masyarakat.

“Dukungan kemanusiaan juga diberikan kepada keluarga yang memerlukan perlengkapan untuk membangun hunian sementara, berupa 5.450 paket shelter kit keluarga, 3.300 paket perlengkapan pertukangan, 2.750 paket peralatan dapur,” kata Arnice Ajawila selaku Project Manager YEU.

Selain itu, YEU juga mendistribusikan sebanyak 3.300 paket kebersihan untuk keluarga. Masih dalam masa tanggap darurat, program perlindungan kepada target anak
dilakukan melalui fasilitasi belajar dan bermain kepada 1.612 anak, serta pelatihan perlindungan anak
berbasis komunitas yang diikuti sesi sosialisasi kepada 968 orang.***

Reporter: Yohanes Clemens

Pos terkait