Kepada media Selasa 21 April 2026, Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri melontarkan kritik keras ke Pemerintah Kabupaten Morowali Utara.
Tanah kelahirannya itu, dinilai melakukan pembiaran dugaan alih fungsi lahan persawahan transmigrasi di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, menjadi lokasi pembuangan slag nikel yang ditengarai milik PT Gunbuster Nickel Industry (GNI).
Safri menyebut kondisi tersebut sebagai ironi yang terlalu telanjang untuk ditutup-tutupi. Di tengah gencarnya pemerintah pusat mendorong program ketahanan pangan dan swasembada melalui pencetakan sawah baru, di Morowali Utara justru terjadi sebaliknya: lahan pertanian produktif diduga dikorbankan untuk menampung limbah industri.
“Negara sedang sibuk bicara soal swasembada pangan, cetak sawah di mana-mana, tapi di Morowali Utara yang terjadi justru kebalikannya. Sawah yang sudah ada malah ditimbun untuk buang slag nikel. Ini bukan sekadar kelalaian, ini penghinaan terhadap akal sehat,” ujar Safri dengan nada tajam.
Ketua Fraksi PKB itu juga menyindir sikap pemerintah daerah yang dinilai seolah tidak melihat, atau bahkan pura-pura tidak tahu, atas aktivitas tersebut.
Menurut Safri, pembiaran ini mencerminkan lemahnya keberpihakan terhadap kepentingan rakyat, khususnya petani transmigran yang menggantungkan hidup pada lahan persawahan.
“Kalau sawah bisa dengan mudah berubah jadi tempat buangan limbah B3, lalu di mana posisi pemerintah? Apakah mereka benar-benar tidak tahu, atau memang memilih untuk tidak tahu?” sindirnya.







