SULTENG – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, melalui Firmanza DP, Kepala Dinas Pendidikan menyebut sejak semula (mendaftar) calon penerima tak dibenarkan peserta BERANI Cerdas menerima bea siswa lainnya.
Firmanza menanggapi pemberitaan sekaitan dengan ramainya berita https://kailipost.com/2026/06/310-mahasiswa-universitas-tadulako-dipaksa-kembalikan-berani-cerdas-alumni-untad-mestinya-tanggung-jawab.html
Pernyataan Firmanza itu menjadi pertanyaan publik sebaliknya. ‘’Kalau sejak awal tidak diperbolehkan di sistem aplikasi BERANI Cerdas mengapa 310 mahasiswa Universitas Tadulako terdeteksi double funding? Kalau begitu ada kelemahan pada aplikasi dengan kata lain kebobolan,’’ kata pengamat sosial yang kini aktif di lembaga investigasi negara, Andi Azikin Suyuti Rabu (24/6/2026) malam ini.
Terpisah, salah seorang alumni Untad, yang kini aktif di dunia pengacara menyayangkan kalau Dikjar mengirim surat ke universitas. Pasalnya, yang melakukan hubungan hukum secara material adalah mahasiswa dan Dikjar. ‘’Buktinya kan uang UKT masuk ke rekening mahasiswa di Bank Sulteng. Mahasiswa membayar sendiri UKT. Salah alamat kalau minta ke kampus. Salahnya kampus juga malah bikin surat ke dekan menekan mahasiswa mengembalikan,’’ terangnya.
Sebelumnya, pihak rektorat mengeluarkan surat instruksi ke para dekan tertanggal 23 Juni 2026 agar 310 mahasiswa mengembalikan dana BERANI Cerdas. Alasan surat itu hasil verifikasi dan evaluasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah ditemukan 310 mahasiswa penerima BERANI Cerdas juga penerima beasiswa ganda. Atau double funding atau bea siswa ganda.
‘’Kasus ini mahasiswa itu korban. Kok dijadikan pelaku kesalahan pejabat, sejumlah alumni IKA Untad siap menjadi penasehat hukum bila diperlukan,’’ ujar salah satu alumni Untad – IKA Untad, Datu Wajar Lamarauna S.sos MSi, Palu Selasa 23 Juni 2026.
Data yang terhimpun bahwa mahasiswa Untad penerima Berani Cerdas sebanyak 10.678 orang sekitar Rp37 miliar. Sehingga dengan adanya 310 mahasiswa yang dipaksa mengembalikan dana tersebut menjadi viral. Bagaimana dengan mahasiswa kampus lainnya? Apakah juga ada kebobolan. ***








