Mahasiswa FUAD UIN Datokarama Palu Diharapkan Mampu Menangkan Peluang Diera 5.0

PALU- Fakutas Ushuludin, Adab dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, menggelar Kuliah umum dan penerimaan Mahasiswa baru tahun ajaran 2022, Senin (5/9/2022) bertempat di Aula Dakwah Kampus UIN, Jalan Ponegoro, Kota Palu.

Dalam sambutanya, Dekan FUAD UIN Datokarama Palu, Dr. H Sidik. M.ag mengatakan bahwa mahasiswa baru tahun ini, berjumlah 285 orang. Mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Meningkat sekitar 5 persen.

Kuliah umum dengan tema “Membangun karakter Mahasiswa Paripurna memenangkan peluang di era 5.0” tersebut, sengaja diangkat oleh Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah, mencermati fenomena perkembangan di era saat ini. Olehnya, Mahasiwa perlu dibekali dengan ketrampilan, kreatifitas dan inovatif.

Ia menyampaikan selamat kepada segenap Mahasiswa baru Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah UIN Datokarama Palu yang telah melabuhkan pilihanya untuk menuntut ilmu di Perguruan Tinggi tersebut.

Kehadiran Mahasiswa baru, memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang.

“Dengan ini saya mengucapkan selamat dan berterimaksih kepada Mahasiswa baru atas kebersamaan kita untuk menuntut ilmu dan mengembangkan pengetahuan di UIN Datokarama Palu. Insyaallah, kalian bisa menjadi Sarjana di tempat ini,” ungkapnya.

Sementara, Guru Besar Filsafat dan Pemikiran Islam Fakultas FUD UIN Datokarama Palu dan juga selaku nara sumber, Prof. Dr. H. Lukman Tahir. MA mengutip dua pandangan dari dua tokoh besar dunia. Yaitu Sahabat Nabi Muhamad. SAW, Ali Bin Abuthalib serta.

Dalam ucapanya, Ali Bin Abuthalib mengatakan agar mendidik anak sesuai zamanya. Dalam hal ini lanjut Prof. Dr. H. Lukman Thahir. MA, pembelajaran anak, harus disesuaikan dengan zaman saat ini. Bukan mengikuti era para pendidik.

Pandangan lainya dikutip dari seorang filosof dan bapak pendidikian modern, Jhon Dewey mengatakan jika melakukan pendidikan pada masa lalu, dan memberikan pendidikan terhadap pelajar saat ini dengan menerapkan metode dahulu, sama dengan merampas kemawasiswaan mereka.

Dari dua pandangan tersebut, disimpulkan bahwa proses belajar mengajar didalam sebuah lembaga pendidikan, harus disesuaikan dengan zamanya.

Lebih jauh ia membeberkan bahwa kita tidak akan mungkin memahami tentang poin 5.0 jika tidak mengerti terkait revolusi industri 4.0.

Menurutnya, revolusi industri merupakan perubahan besar pada abad 18. Dimana pada abad tersebut, merupakan fase menuju abad modern. Terhadap cara manusia mengolah sumber daya dan memproduksi bahan.

“Ada perubahan kerangka berfikir (Paradigma) manusia didalam mengolah sumber daya manusia maupun alam dan memproduksi barang,” jelasnya.

Revolusi terjadi secara spektakuler. Perubahan besar-besaran terjadi dibidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan tehnologi. Perubahan tersebut, memberikan dampak terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya dunia.

Contohnya ditemukanya mesin uap oleh James Watt pada revolusi pertama, mengubah cara berfikir manusia menuju abad modern.

Kemudian seratus tahun kemudian ditemukan kembali listrik oleh Thomas Alva Edison. Sehingga semakin mengubah Paradigma berfikir manusia.

Revolusi ketiga, tehnologi informasi berkembang dengan pesat. Zaman yang dikuasai oleh komputer.

Setelah itu masuk kerevolusi keempat. Dimana semua jaringan, sistim semakin maju. Gadget, komputer telah menjadi kebutuhan primer bagi manusia.

Ia menyimpulkan bahwa antara era 4.0 dan 5.0 merupakan era yang sama. Hanya saja zaman 5.0 diharapkan manusia bisa berperan besar. Tanpa harus digantikan oleh robot maupun tidak mampu menguasai tehnologi.

“Tema pada hari ini sangat luar biasa. Dimana institusi keagamaan itu harus mengikuti pola dari negara maju, namun tidak melupakan kearifan lokalnya. Diera serba digital saat ini. ***

Reporter: Firmansyah Lawawi

Berita terkait