(CATATAN ISRAJ MIRAJ | 16 JANUARI 2026)
MODERASI BERAGAMA, SECARA MAKRIFATULLAH ADALAH KESALEHAN EKOLOGIS. Orang saleh menjaga keseimbangan alam. Keseimbangan adalah diksi penting moderatif antara manusia dengan alam. Sebagai mandataris khalifah di muka bumi.
Memaknai Israj Miraj tahun ini (2026)
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Safri mengajak umat muslim memaknai tak hanya dengan keimanan ‘Mirajnya’ Nabi Muhammad SAW atau sebagai peristiwa spiritualitas saja.
Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan revolusi tehnologi digitalisasi, peristiwa Isra Miraj tak lagi ‘hanya dipercaya’ dengan iman, tapi sudah dapat diterima oleh akal sehat. Ilmu kecepatan cahaya, kereta cepat, pesawat dengan teknologi boing dan fakta serangan Iran ke Israel tanpa mobilitas darat tapi menghancurkan Tel Aviv.
Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW kata Safri, harus menjadi momentum muhasabah serius atas maraknya bencana ekologis yang dipicu oleh kerakusan manusia dalam mengeksploitasi alam, termasuk aktivitas penambangan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Dirinya menyebut, bencana banjir, longsor, hingga kerusakan ekosistem yang terus berulang tidak bisa lagi dianggap sebagai musibah alam semata, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan dan praktik eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan tanpa kendali dan tanggung jawab.
“Islam secara tegas mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Ini bukan sekadar pesan moral, tetapi peringatan keras agar manusia berhenti merusak ciptaan Allah atas nama keuntungan,” kata Safri dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).
Safri menilai, praktik penambangan yang mengorbankan kawasan resapan air, hutan, dan ruang hidup masyarakat merupakan bentuk pengkhianatan terhadap mandat manusia sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, ketika alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi tanpa etika, maka bencana hanyalah soal waktu.
Safri juga mengaitkan makna Isra Mikraj dengan kewajiban salat sebagai simbol hubungan vertikal manusia dengan Tuhan yang seharusnya melahirkan tanggung jawab sosial dan ekologis.
Sekretaris Komisi III ini menegaskan, kesalehan ritual tidak memiliki arti jika berbanding terbalik dengan perilaku yang merusak alam dan mengancam keselamatan publik.
“Tidak ada kesalehan yang sah jika dibangun di atas kerusakan lingkungan. Ketika tambang dibiarkan merusak, ketika hutan dibabat tanpa kendali, maka yang kita saksikan sesungguhnya adalah runtuhnya etika iman dalam praktik kehidupan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Safri mendorong umat Islam dan para pemangku kebijakan untuk menjadikan Isra Mikraj sebagai titik balik membangun kesadaran ekologis yang tegas dan berkeadilan.
Ia menekankan pentingnya menghentikan eksploitasi alam yang melampaui batas serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan yang berpotensi menimbulkan bencana.
Menurut Safri, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW mengajarkan kesadaran kosmik, yakni kesadaran bahwa manusia bukan penguasa absolut alam, melainkan bagian dari tatanan semesta yang wajib dijaga keseimbangannya.
“Jika kesadaran ini terus diabaikan, maka bencana akan terus berulang dan korban akan terus berjatuhan. Ini bukan takdir, tetapi akibat dari pilihan manusia sendiri,” pungkasnya. ***







