Safri menegaskan, penghentian sementara operasional akibat insiden maut bukan sekadar prosedur administratif yang bisa ditutup begitu evaluasi selesai.
“Ini menyangkut nyawa manusia. Jangan buru-buru bicara pemulihan produksi seolah-olah persoalan selesai. Publik belum melihat transparansi penuh atas penyebab kecelakaan dan siapa yang bertanggung jawab,” tegasnya dalam rilis, Jumat (10/4/2026).
Ia menyentil pengumuman dari PT United Tractors Tbk dan Nickel Industries Ltd yang menyebut operasional tambang Hengjaya telah kembali berjalan usai investigasi Kementerian ESDM rampung. Menurut Safri, langkah tersebut terkesan lebih menonjolkan kepentingan bisnis ketimbang empati terhadap korban dan keluarganya.
“Kalau hanya berhenti sebentar lalu lanjut lagi dengan dalih sudah dievaluasi, ini berbahaya. Jangan sampai keselamatan kerja hanya jadi formalitas untuk menjaga ritme produksi,” ujar Ketua Fraksi PKB itu.
Safri juga mempertanyakan sejauh mana hasil investigasi benar-benar dibuka ke publik. Ia menilai, tanpa transparansi menyeluruh, keputusan melanjutkan operasi berpotensi mengulang tragedi serupa.








