(Kritik Terbuka untuk Gubernur Anwar Hafid)
Oleh : Drs Andi Azikin Suyuti MSi
SAYA Hirmat, pada niat Gubernur Anwar Hafid. Mengajak ASN sedekah lewat program “Subuh Berkah” Islam memang menyuruh kita peduli.
Tapi Pak Gubernur, niat baik tidak menghapus cara yang salah. Ini faktanya: Setiap acara, 52 kepala OPD diminta siafkan fasilitas air minum dll.
Sekali kegiatan sebulan bisa beberapa kali. Di atas kertas disebut “sukarela”. Di lapangan, semua tahu itu perintah. Tidak ada yang berani menolak atasan.( “ada edaran ke opd “?)
Ini kaidah agamanya: Sedekah itu ibadah privat antara hamba dengan Allah. Dalilnya jelas: “Tidak ada paksaan dalam agama” QS Al-Baqarah: 256. Rasulullah SAW kalau mengajak sedekah tidak pernah mematok jumlah. Ada yang kasih sebutir kurma, ada yang setengah harta. Semua diterima, karena yang dilihat Allah itu ikhlasnya, bukan nominalnya.
Begitu sedekah diwajibkan oleh jabatan, nilainya gugur. Yang ada bukan amal, tapi setoran. Bukan berkah, tapi beban. Bukan pahala, tapi keluhan.
Ini realitasnya: ASN hari ini sedang sulit. Efisiensi anggaran di mana-mana. Gaji dipotong untuk dapur, listrik, air, LPG, dan uang sekolah anak. Banyak yang sudah gali lubang tutup lubang. Lalu diminta lagi mungkin besaran dana – atas nama “keikhlasan”.? , itu bukan keikhlasan. Tapi ” tekanan.”
Saya bertanya dengan hormat:
1. Apakah sedekah yang lahir dari rasa takut pada atasan masih dihitung ibadah?
2. Apakah program berkah boleh dijalankan dengan membuat keluarga OPD DAN ASN gelisah?
3. Siapa yang tanggung jawab kalau ada pejabat yang akhirnya “nyubit” anggaran kantor demi ikut program ini?
Pak Gubernur, mengajak kebaikan itu sunnah. Mewajibkan kebaikan lewat kekuasaan itu melanggar sunnah.
Saran saya sederhana:
1. Hentikan patokan NILAI RUPIAH DAN PENYIAPAN AIR MINUM DLL. Cukup serukan sedekah, biar seikhlasnya.
2. Jamin tidak ada sanksi bagi yang tidak ikut. Buktikan bahwa ini benar-benar sukarela.
3. Tutup celah riya’. Jangan diumumkan siapa kasih berapa. Sebab sedekah terbaik itu tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu.
Jangan sampai “Subuh Berkah” yang Bapak gagas justru jadi “Subuh Terpaksa” yang menggerus wibawa Bapak sendiri. Sebab kepercayaan rakyat itu dibangun dari ketulusan, dan runtuh karena paksaan.
Ini kritik dari saya sebagai orang tua yang sayang Sulteng. Bukan benci orangnya, tapi luruskan caranya.
Disclamer :
Penulis adalah alumni STKS Bandung 1982 | Kadis Sosial Provinsi Sulteng 2000-2005 | Pj Bupati Poso 2006.
#SubuhBerkah #KritikMembangun #Sulteng







