Ungkapan Bijak Masyarakat Kaili; Cermin Nilai Persaudaraan

  • Whatsapp

DALAM Kehidupan masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah, ungkapan-ungkapan bijak tidak sekadar rangkaian kata, melainkan warisan nilai yang mengandung filosofi hidup mendalam. Salah satu ungkapan yang sarat makna adalah: “Ribavo Mposarara Angga Tonantanina Karota, Itumoitu Dekeika Kabeloa Kaiya.” (Puncak persaudaraan adalah memandang orang lain sebagai diri kita sendiri.

Oleh karena itu, berikanlah yang terbaik kepadanya.) Ungkapan ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Kaili yang menempatkan nilai persaudaraan (nosarara) sebagai fondasi utama dalam interaksi sosial. Filosofi ini mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan, melainkan harus dilandasi oleh rasa empati dan kesadaran akan kesetaraan.

Makna Filosofis

Pada bagian pertama, “Ribavo Mposarara Angga Tonantanina Karota”, terkandung ajaran bahwa tingkat tertinggi dari persaudaraan adalah ketika seseorang mampu melihat orang lain sebagai refleksi dirinya sendiri.

Ini bukan sekadar ajakan untuk berempati, tetapi juga untuk merasakan, memahami, dan menghargai orang lain sebagaimana kita menghargai diri sendiri.

Sementara itu, bagian kedua, “Itumoitu Dekeika Kabeloa Kaiya”, menegaskan konsekuensi moral dari pandangan tersebut, yaitu kewajiban untuk memberikan yang terbaik kepada sesama. Ketika seseorang memandang orang lain sebagai dirinya sendiri, maka tidak ada ruang untuk perlakuan yang merugikan, menyakiti, atau merendahkan.

Nilai Kemanusiaan dan Sosial
Ungkapan ini memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Nilai ini sejalan dengan prinsip gotong royong, saling menghormati, dan solidaritas yang menjadi ciri khas masyarakat Kaili.

Dalam konteks yang lebih luas, ungkapan ini juga mencerminkan nilai universal kemanusiaan, di mana setiap individu dipandang memiliki martabat yang sama. Prinsip ini menjadi dasar dalam menciptakan kehidupan yang damai dan berkeadilan.

Relevansi di Era Modern
Di tengah dinamika kehidupan modern yang sering kali diwarnai oleh individualisme dan persaingan, ungkapan ini menjadi pengingat penting untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan. Sikap saling memahami dan memberi yang terbaik kepada sesama dapat menjadi solusi dalam meredam konflik sosial dan memperkuat kohesi masyarakat.

Nilai ini juga sangat relevan dalam konteks pembangunan berbasis kearifan lokal, di mana kemajuan tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kualitas hubungan sosial antarwarga.

Penutup
Ungkapan “Ribavo Mposarara Angga Tonantanina Karota, Itumoitu Dekeika Kabeloa Kaiya” adalah cerminan kearifan lokal masyarakat Kaili yang menempatkan persaudaraan dan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi. Dengan memandang orang lain sebagai diri kita sendiri, kita diajak untuk membangun dunia yang lebih adil, harmonis, dan penuh kasih.
Nilai ini bukan hanya milik masyarakat Kaili, tetapi juga merupakan warisan luhur yang relevan bagi seluruh umat manusia dalam menciptakan kehidupan yang beradab dan bermartabat. (DR H SUAIB DJAFAR MSI)

Berita terkait