Menteri juga mengingatkan bahaya fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika sosok ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir dalam kehidupan emosional anak. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi perkembangan karakter, kepercayaan diri, hingga kesehatan mental anak.
Selain itu, gubernur meminta orang tua lebih bijak mendampingi penggunaan gawai pada anak. Pengasuhan yang lemah dan minimnya interaksi dalam keluarga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya berbagai persoalan sosial, seperti perundungan, tawuran, hingga kekerasan di kalangan remaja.
Usai membacakan amanat Menteri, Gubernur Anwar Hafid menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam memperkuat program ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, Pemprov Sulawesi Tengah terus mengintegrasikan berbagai program pembangunan keluarga melalui perangkat daerah, termasuk percepatan penurunan stunting yang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
“Melalui dinas yang membidangi pemberdayaan keluarga dan perencanaan, kami terus memperkuat program percepatan penurunan stunting. Ini menjadi bagian yang sangat penting karena ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan pondasi utama yang harus mendapatkan perhatian,” ujar Gubernur.
Ia menambahkan, keberhasilan menurunkan angka stunting akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Sulawesi Tengah pada masa mendatang.
Pada momentum Hari Keluarga Nasional ini, Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat Sulteng menjadikan keluarga sebagai tempat pertama membangun karakter generasi penerus. ***







