“Saya jujur, ketika pertama kali mendengar pengumuman itu, saya juga bertanya, kok tenaga kesehatan tidak? Padahal kalau kita lihat, dua bidang ini sama-sama prioritas. Peran guru dan tenaga kesehatan sama-sama sangat vital bagi masyarakat,” tegas Anwar Hafid.
Menurutnya, guru memiliki peran besar dalam membangun sumber daya manusia melalui pendidikan, sementara tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Karena itu saya mendukung sepenuhnya saudara-saudara sekalian untuk mempertanyakan hal ini. Kenapa hanya guru? Seharusnya tenaga kesehatan juga mendapatkan perhatian dan kepastian yang sama,” ujarnya.
Anwar Hafid meminta para tenaga kesehatan segera menyiapkan surat resmi berisi aspirasi dan tuntutan mereka. Surat tersebut akan dibawanya langsung dalam agenda kunjungan ke Jakarta untuk memperjuangkan persoalan tersebut kepada pemerintah pusat.
“Tadi Pak Wamen sudah menyampaikan agar dibuatkan surat tertulis. Kalau bisa satu atau dua hari ini sudah selesai dan diberikan kepada saya, supaya bisa saya bawa ke Jakarta. Kita akan coba perjuangkan dan komunikasikan dengan kementerian terkait,” katanya.
Gubernur juga mengungkapkan bahwa persoalan tenaga PPPK bukan hal baru baginya. Semasa bertugas sebagai anggota DPR RI, Anwar Hafid mengaku kerap menerima aspirasi dan keluhan dari tenaga PPPK di berbagai daerah.
Karena itu, ia menilai aspirasi ratusan tenaga kesehatan Sulawesi Tengah harus mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Menurutnya, jangan sampai terjadi perbedaan perlakuan terhadap dua sektor yang sama-sama memiliki peran strategis dalam pembangunan manusia.
“Jangan sampai ada yang keliru. Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, apa yang saudara-saudara perjuangkan hari ini, secara pribadi dan sebagai pemerintah daerah, saya mendukung,” pungkasnya. **








