Tokoh Adat Temui Danrem & Wakapolda

  • Whatsapp
KETUM PMII LECEHKAN SULTENG

SEJUMLAH Tokoh Masyarakat, cendekiawan dan tokoh adat yang bergabung pada Libu Ntodea tana Tadulako kemarin melakukan road show dengan mendatangi sejumlah pimpinan Muspida Sulteng. Tujuannya, agar ujaran Ketua Umum PB PMII, Aminudin Makruf di forum pembukaan Kongres PMII yang dihadiri Presiden RI Jokowi dapat diberikan sanksi.

Libu Ntodea tana Tadulako yang terdiri Arifin Sunusi (tokoh masyarakat), Irwan Karim (cendekiawan), DR Suparman Syamsudin (praktisi kampus), DR Misbah (akademisi), Hardi Yambas (pengusaha nadliyin Sulteng), Tezart (tokoh pemuda Kaili)  dan Rizal Rauf (tokoh muda dari Sigi) meminta Wakapolda AKBP Aris Purnomo untuk segera memanggil Aminudin Makruf untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya. Kedua; yang bersangkutan segera meminta maaf pada masyarakat Sulteng via media massa lokal dan nasional. Ketiga; yang bersangkutan harus menerima nantinya sanksi adat.

‘’Kami berinisiatif ke sini karena sejak malam kemarin hingga pagi ini (17/05) situasi di masyarakat sudah memanas. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kami meminta agar pihak kepolisian segera menghentikan dulu Kongres dan saudara Aminuddin Makruf dapat mempertanggungjawabkan pernyataannya,’’ ujar Arifin Sunusi mengawali.

Dengan pola dialog, lanjut Arifin hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah bersama. Menimpali hal itu, DR Misbah menegaskan bahwa ujaran Aminudin sudah melukai perasaan masyarakat adat dan Sulteng pada umumnya. Pertama; yang bersangkutan menyebut tanah Tadulako tapi tidak memahami subtansi yang dimaksud tanah Tadulako.

‘’Tadulako adalah simbol kepemimpinan meliputi Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan Donggala. Ada nilai adat, budaya dan sosial. Bila mengatakan bahwa tanah ini (Tadulako) adalah pusat radikalisme Islam itu sangat tidak mendasar dan keterlaluan. Walaupun ada alasan itu katanya. Katanya, tidak dapat jadi pijakan dalam sebuah ivent atau komunikasi dengan Presiden. Termasuk tanah ini adalah pusat penolakan NKRI. Apa basis sejarahnya?,’’ jelasnya dengan nada tinggi. Hal senada juga disampaikan semua tokoh Libu Ntodea tana Tadulako secara bergantian.

Wakapolda Aris Purnomo mengaku akan segera menindaklanjuti dan akan memediasi pada panitia Kongres untuk segera memanggil yang bersangkutan. Tujuannya agar semua dapat berdialog dengan suasana kekeluargaan. ‘’Segera nanti Bapak Dir Intel akan mengordinasikan hal itu,’’ jawab Wakapolda.

Sementara Dir Intel Lili Suprana mengatakan bahwa pihaknya sudah mencoba menghubungi pihak-pihak dari PMII, termasuk pimpinannya agar segera menyelesaikan dengan damai terkait polemik di sambutan acara Kongres. ‘’Kami akan secepatnya menjembatani. Agar semuanya dapat segera selesai,’’ jawabnya yang didampingi Humas Polda Sulteng di ruangan Wakapolda.

Sorenya, Danrem 132 Tadulako pun bertemu Libu Ntodea tana Tadulako di Warkop Aweng Jalan Durian. Hal senada juga diungkapkan sejumlah tokoh-tokoh adat. Baik Danrem dengan para tokoh adat sepakat hal itu akan diselesaikan dengan jalur jalur silaturahim. ‘’Bila ada sanksi adat silahkan,’’ ujar Danrem. Sayangnya sampai malam ini berita naik cetak belum ada kabar upaya-upaya pertemuan para tokoh masyarakat itu dengan Ketua PB PMII.

Rombongan Ketum PB PMII yang dikawal sejumlah pimpinan GP Anshor Sulteng pada sore kemarin hanya menemui Gubernur Longki Djanggola, Ketua Utama Al Khairaat dan berziarah di makam Guru Tua Sis Al Jufrie. **

reporter/editor: bebi/andono wibisono

 

Berita terkait