(JANGAN JADI) MASJID YANG GAGAL 

  • Whatsapp

KENAPA KITA tidak mengikuti sunah kekasih Allah, rasul Allah, kanjeng nabi Muhammad SAW. Zamannya, Masjid Nabawi, Madinah tak sekadar digunakan untuk salat. Masjid Nabawi diciptakan sebagai pusat peradaban Islam pertama pasca hijrah rasul.  Masjid Nabawi tempat nabi mengatur perdagangan Madinah, ekonomi Islam, sampai pada menyusun strategi peperangan.


Di Jogjakarta, ada masjid ‘celengannya’ entah berapa miliar rupiah setiap hari. Yang jelas setiap menjelang buka puasa, takmir masjid menyiapkan 3.800 nasi dos lengkap dengan lauk dan sayur. Menyiapkan kebutuhan mahasiswa Islam Jogja perantau ikutan sahur dan kamar – kamar khusus musafir di sekitaran masjid. Semuanya gratis.


Di Surabaya, masjid dekat rumah saya komplek TNI AL, Tanjung Perak Surabaya Timur ada masjid free W-fi bagi semua. Siapa pun berada di sekitar masjid itu mudah mengakses internet. Ojol, mahasiswa dan pelaku pelaku usaha kecil mikro setiap hari berjejer mengelilingi masjid. Hanya untuk dapat akses internet. ‘’Ketika waktu salat jaringan dihentikan dan ada notifikasi ayo salat dulu baru internetan’’ 

Yang pakai internet bisa siapa saja dan profesi apa saja. ‘’Islam Kristen Budha atau apa saja bisa akses internet gratis asal sekitar masjid. Masjid menjadi magnet dan mengubah persepsi masjid hanya dipakai salat saja. Masjid membawa peradaban toleransi, moderasi dan kebersamaan. Itu sunah nabi,’’ kata sepupu saya yang takmir di masjid itu.


Masjid Baitul Khairaat Kota Palu Sulawesi Tengah, dibangun megah dua tahun lalu. Pemprov Sulteng menghabiskan dana asli daerah Rp380 miliar. Sudah beberapa bulan lalu diresmikan. Masjid kebanggaan masyarakat Sulteng. Menjadi ikon Palu pasca bencana alam dahsyat 7,4 SR 2018 lalu. 


Kini masjid megah sudah digunakan tarawih umat muslim Palu dan sekitarnya. Sudah digunakan Gubernur Anwar Hafid retreat pejabat eselon II yang muslim selama tiga hari. Istilah lain quruj. Keluar rumah. 


Semestinya, masjid semegah Baitul Khairat sudah memiliki konsep yang tidak hanya sebagai rumah ritual yang kering guna membangun peradaban umat Islam di Sulteng. Masjid Baitul Khairaat memiliki jadwal atau space kajian dan perpustakaan literasi Islam, ada wfi gratis, ada ruang terbuka bagi milenial dan Gen Z  mengembangkan apapun di lingkungan masjid seluas satu hektare itu. 


Terlalu mahal membangun masjid bila hanya digunakan ritualistik. Masjid Baitul Khairaat semestinya menyatukan dua sejarah. Sejarah masjid yang dicontohkan Rasulullah dan sejarah modern yang memagemen masjid menuju peradaban Islam modern di era digitalisasi.

Masjid yang pro akan pemberdayaan ekonomi umat di tengah kesempitan fiskal nasional dan daerah. Masjid yang komitmen  sebenar- benarnya untuk umat. Bukan masjid tempat ritual dan ceramah dengan frasa frasa melangit tapi tidak membumi. Umat butuh contoh, bukan hanya pidato iCloud. Awan.

‘’Mestinya kan setelah diresmikan lalu konsepnya sudah mesti ada. Dibuat salat sajakah itu masjid atau akan dibuat sebagaimana rasul sudah contohkan. Mestinya ada UMKM keliling sekitar masjid, ada Wfi gratis agar anak anak mahasiswa UIN Palu yang dekat dan warga sekitar apapun agamanya bisa menikmati kehadiran masjid, ada frasa harmoni dan moderasi yang nyata. Tidak hanya disambutan dan kutbah atau ceramah saja tapi kosong dalam tindakan nyata,’’ kata kawan saya yang kini aktif di sebuah dewan dakwah masjid sambil menunggu Dhuhur di masjid Agung Lolu. *** (penulis pegiat sosial | NU kultural)

Berita terkait