Mal Tatura; Sejarah & Intrik Politik

Dok : pribadi dalam sebuah kesempatan dengan pemilik saham PT CNE.
banner 780x80

SAYA Lupa tahun tepatnya, kapan menjadi Public Officer di PT Citra Nuansa Elok (CNE) – perusahaan yang membangun Mal Tatura. Seingat saya, waktu masih menjadi jurnalis di Harian Mercusuar. Sekira tahun 2000-an. CNE masih direktur utamanya Hidayat dan Supratman Andi Agtas adalah komisaris. Kantornya di sebuah ruko depan Mercusuar Jalan Yos Sudarso Palu Sulawesi Tengah.

Gajinya juga kapan saya minta baru gajian. Maklum, Hidayat sang Dirut adalah teman, sahabat seperti saudara. Kami pun tak segan – segan masuk kamar pribadi dan ambil baju yang kita senang dan bawa pulang. Itu persahabatan.

Bacaan Lainnya

Menjadi seorang public officer perusahaan yang membangun mall pertama kali di Kota Palu tidaklah mudah. Selain saya belum punya pengalaman menjadi PR (public relation) juga saya harus mampu membangun hubungan dengan citra publik, melindungi reputasi organisasi, menjaga prestise organisasi, kepada klien dan customer serta utamanya ke publik atau khalayak. Sampai Mall Tatura berdiri dan diresmikan. Sampai banyaknya tenant di Mall Tatura. Saya mundur mulai sibuk ke Panwaslu Pilgub langsung 2006.

Mall Tatura upaya Wali Kota Rusdy Mastura membangun peradaban Palu yang selama ini dikenal kota debu. Kotor, jorok dan gelap bila malam. Tidak ada kehidupan, istilah prokem anak gaul Palu. Sejarah mencatat bahwa Palu pertama kali memiliki pusat perbelanjaan modern yang dipadukan dengan pasar tradisional di belakangnya. Ini namanya sosialisme mengembangkan diri dan kapitalisme mawas diri.

Singkat cerita, tahun 2016 kembali saya bersetuhan dengan Mal Tatura dan manajemennya PT CNE. Saya salah satu anggota tim pendamping Bidang Pendataan Aset Milik Daerah. Tim pendamping saat itu bekerja sesuai perintah langsung Wali Kota. ‘’Cari data dan Laporkan,’’ perintah Wali Kota Hidayat.

PT CNE setahun sebelum roboh diluluh – lantahkan bencana 2018, seluruh asetnya telah tidak berhutang dengan perbankan. Bahkan, mengasuransikan bangunan ke jasa asuransi. Mall Tatura saat itu sudah pindah manajemen Dirut Karman Karim SH.

Berganti Wali Kota, manajemen pun berganti. Saat ini manajemen dipimpin Muhammad Sandiri atau persisnya dikenal dengan Memet. Tak lama menjabat 2018 bencana alam. Mall Tatura roboh. Semua bangunan tak bisa digunakan. Bahkan bangunan basemen.

PT CNE ternyata berencana membangun kembali Mal Tatura dengan nama New Mall Tatura – NMT (kalau tidak salah). Dananya dari mana? Ada pembayaran asuransi kurang lebih Rp87 miliar. Bukan Rp86 miliar. Infonya ke saya bahwa Rp1 miliar sebenarnya sukses fee managemen membantu penjualan eks bangunan Mal yang roboh oleh pihak asuransi. Tapi dana itu dimaksukkan ke omset Mall Tatura oleh manajemen.

Hingga saat ini PT CNE pemegang sahamnya hanya Pemkot dan Hidayat. Sebagai pemegang saham pengendali (PSP), ramai diberitakan membekukan keuangan manajemen perusahaan hang sedang membangun NMT.

Info saya dengar bahwa, pembangunan NMT sudah menelan dana Rp20 miliaran. Atas dasar itulah, pihak PSP ingin mengetahui apakah benar dana yang terserap dan realisasi fisik sesuai di NMT sekarang. Info lainnya, PSP juga ingin mengetahui manajemen pembangunan NMT. Siapa pemberi jasa, penyedia jasa, pengawas pembangunan dan seterusnya. Olehnya sebagai PSP, Wali Kota membekukan sementara manajemen keuangan PT CNE, selaku pembangun NMT.

Informasi berkembang saya dengar manajemen PT CNE akan diganti. Pembekuan manajemen keuangan adalah ‘pintu masuk’ saja untuk memuluskan hajatan PSP. Seperti yang saya tulis di atas. Setiap pergantian ‘kekuasan di Palu’ pasti akan berganti manajemen. Di sinilah kadang bisnis yang dicampur aduk dengan politik tidak akan sukses. Sejarah panjang Mall Tatura saya mencatatnya dengan baik.

Di tengah tulisan ini saya mengajak pembaca berdiskusi. Begini tataran keywordnya. PT CNE sejak didirikan memiliki aset berupa lahan/tanah dan bangunan Mall Tatura lima lantai.

Setelah bencana 2018, gedung mal roboh, hancur dan tak dapat digunakan. Logikanya, PT CNE kehilangan aset berupa bangunan. Artinya, aset CNE sisa tanah di atas bangunan roboh dan dana Rp87 miliar pembayaran dari asuransi. Pertanyaannya, apakah pemilik saham CNE pernah membahas hal ini? Bahwa karena terjadi ‘kahar’ – bencana alam terjadi perubahan aset CNE dan otomatis perubahan nilai lembar saham? Sudahkah ini telah diubah akta perubahan saham? Karena bentuk aset berupa bangunan mall sekarang sudah tidak ada !!! Sesuatu yang berubah juga mesti diubah sebagai peristiwa hukum perdata atau hukum perseroan. Harus klir dulu di sini. Dengan perubahan itu, berkonsekwensi pada pemegang saham pengendali (PSP) PT CNE pasca bencana alam. Silahkan diskusikan !

Sebagai penutup tulisan, ada usul dan saran. Singkat saja. Wali Kota Hadiyanto Rasyid sebagai PSP atas nama pemerintah kota pemilik saham mayoritas PT CNE mestinya sudah berfikir bisnis dan kosentrasi menyukseskan diri sebagai wali kotanya penyintas.

Apa itu? Jual saham PT CNE. Berikan jalan ‘red carpet’ untuk investor masuk ke Palu. Efeknya sangat besar ke Palu pasca bencana. Pemkot memiliki dana segar untuk menbangun kota. Mimpi Palu Bergerak Bersama akan tercapai. Karena didukung alokasi anggaran yang memadai. Hibah Pemprov Rp37 miliar dan hasil penjualan saham PT CNE cukup menjadi penopang APBD 2022 dan 2023 mendatang.

Palu memiliki kebutuhan mendesak. Wali Kota Hadianto mestinya sudah berfikir dengan lompatan ‘quantum’ yaitu menyiapkan Palu Baru 2045. Mulai sekarang membuat Blue Print Palu Baru. Didesain kotanya dengan pendekatan mitigasi bencana, berapa kebutuhannya, apa peran departemen yang mesti dilibatkan, siapa orang – orang kridibel duduk menyiapkan PALU BARU 2045.

Sekedar mengurus Mall itu urusan ecek – ecek. Tukang atau kontraktor saja bisa selesaikan. Tugas pemimpin itu mendesain peradaban yang maju, kesejahteraan dan pengurangan kemiskinan. Tidak sekedar hanya meminta semua bergerak tetapi golnya hanya soal remeh temeh. Pemimpin akan dikenang sesuai takarannya. Bila yang dibangun adalah peradaban, maka sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin besar.

Bila saham PT CNE dilepas oleh Pemkot sbg pemegang saham pengendali maka Palu akan memiliki Mall yang jauh dari intrik politik. Benar benar bisnis murni. Dan akselerasi adanya Mall di Palu akan mudah terwujud.

Selamat Menjemput Rezeki Jumat Barokah. ***

Oleh : andono wibisono

Pos terkait