IMS Bantu Tingkatkan Kapasitas Jurnalis Peliput Bencana

  • Whatsapp
Sumber: antaranews.com

INTERNATIONAL Media Support (IMS) yang berpusat di Copenhagen,
Denmark, menyatakan siap membantu meningkatkan kapasitas para jurnalis di
Sulawesi Tengah dalam meliput bencana dan penanganan pascabencana termasuk
melakukan liputan investigasi.


“Masih banyak hal besar yang harus diliput jurnalis terkait penanganan
pascabencana, untuk itu IMS melalui Tempo Institut akan bekerja sama
menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas jurnalis,” kata Mardiyah
Chamim dari Tempo Institute dalam dialog dengan para pemimpin redaksi media
massa dan jurnalis di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu,
Rabu.

Hadir dalam acara tersebut Andreas Sugar selaku Head of Rapid Response IMS
Denmark, Rangga dari IMS Srilanka, Jasper Nymnark selaku Executive Danwatch
Copenhagen serta konsultas IMS di Indonesia Kristiawan.

Menurut Mardiyah, selain peningkatan kapasitas jurnalis, pihaknya mengajak para
jurnalis untuk membangun kerja sama dalam liputan bersama untuk mengangkat
isu-isu penting terkait penanganan pascabencana, seperti apa saja yang akan dan
sudah dilakukan, bagaimana penggunaan bantuan-bantuan domestik dan
internasional untuk para korban serta kondisi para penyintas yang mencapai
puluhan ribu orang.

Head of Rapid Response IMS Andreas Sugar menilai setelah dua-tiga bulan
pascabencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018,
intensitas pemberitaan mengenai bencana Palu, Sigi, Donggala ini semakin sepi,
padahal masyarakat internasional ingin mengetahui bagaimana upaya yang sudah
dilakukan dalam pemulihan serta penggunaan bantuan-bantuan.

IMS, kata Sugar, memiliki kepedulian tinggi dalam membantu jurnalis di Sulteng
untuk meliput bencana yang berdampak sangat luas dan berat ini.

“Satu hari setelah bencana, IMS sudah menelepon AJI Jakarta untuk
menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk membantu jurnalis dalam liputan
bencana itu. Karena waktu itu komunikasi agak sulit, baru 10 hari kemudian IMS
menerima dua proposal dari AJI Jakarta, satu mengenai dukungan sarana dan
fasilitas dan satu lagi kebutuhan ‘trauma healing’ untuk jurnalis,”
ujarnya.

Namun karena keterbatasan dana, IMS baru bisa membantu penyelenggaraan trauma
healing untuk jurnalis dan keluarganya yang telah diselenggarakan di Palu pada
November 2018.

Sementara itu Jasper Nymark dari Danwatch Copenhagen, sebuah organisasi media
yang fokus pada kegiatan pengembangan liputan investigasi, berharap jurnalis
Sulteng bisa mengembangkan model jurnalisme ini guna mendorong munculnya
pertanggungjawaban yang transparan dan benar terhadap penggunaan seluruih
sumber daya bagi pemulihan kondisi penyintas dan juga wilayah.

“Pers memiliki peran signifikan dalam menjamin bahwa dana-dana bantuan
digunakan secara bertanggung jawab, transparan dan tepat sasaran, bukannya
masuk ke kantong pribadi untuk memperkaya pihak-pihak tertentu,” ujarnya.

Dalan dialog itu terungkap pula bahwa liputan kebencanaan di Palu, Sigi dan
Donggala diakui semakin menurun internsitasnya karena jurnalis masih dalam
tahap pemulihan secara ekonomi, sementara perhatian pihak-pihak luar terhadap
pemulihan ekonomi jurnalis ini sangat minim.

“Para wartawan di sini semuanya adalah korban bencana. Cukup banyak yang
kehilangan pekerjaan karena medianya tidak bisa terbit akibat hancur dihantam
bencana. Jurnalis televisi misalnya, puluhan orang yang kini menganggur,”
ujar seorang wartawan.

Ketua AJI Muh Iqbal mengemukakan bahwa melalui bantuan sejumlah pihak, beberapa
wartawan yang kehilangan alat kerja seperti kamera dan laptop sudah mendapatkan
alat kerja baru.**

Berita terkait