Gubernur Longki Djanggola Live program RRI Play Go soal Mitigasi Bencanaan

  • Whatsapp
Gubernur dan pakar kebencanaan Siaran Langsung melalui Program 1 RRI, Minggu (1/9/19
Sumber: Humas Pemprov
 
Gubernur Sulawesi Tengah Drs. H. Longki Djanggola, M.Si. didampingi Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba, M.SC. bersama Pakar Kebencanaan Universitas Tadulako Dr. Abdullah, MT, melakukan Siaran Langsung melalui Program 1 RRI, Frekuensi 90.8 FM atau melalui RRI play go. Pada hari, Minggu, (1/9/2019), bertempat Studio 1 RRI Palu.

Siaran Langsung dan Dialog dengan Pemirsa Gubernur Sulawesi Tengah Drs. Longki Djanggola, M.SI, Pakar Kebencanaan Untad Dr. Abdullah, MT, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba. M.Si, merupakan Program baru RRI Palu yang disiarkan secara Nasional dimana Program tersebut ” Kentongan” dalam Peningkatan Mitigasi Bencana dan setiap hari akan tayang pukul 20.20 WITA.

Kepala RRI Palu, Drs. H. Zakral Mutzain , MM, menyampaikan Program RRI “Kentongan” yang tayang secara Live setiap hari pukul 20.20 Wita diharapkan dapat memberkan informasi yang sangat berharga kepada masyarakat sulawesi tengah dan Nasional dapat mengetahui dan sadar dan faham bagaimana menyelamatkan diri kalau terjadi bencana atau musibah dan menjadikan alat tradisional “Kentongan” sebagai peringatan dini.

Gubernur Sulawesi Tengah Drs. Longki Djanggola, M.Si. mengapresiasi program yang digagas RRI palu untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat bilamana suatu saat terjadinya bencana apalagi Daerah Sulawesi Tengah atas hasil kajian para Pakar memiliki potensi Bencana  Program tersebut ” Kentongan “. Selanjutnya Gubernur menyampaikan bilamana kita melihat kejadian Bencana yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 silam, menjadi pembelajaran yang berharga buat masyarakat Sulawesi Tengah, Indonesia dan Dunia bahwa SOP mitigasi seolah olah tidak berlaku, dengan terjadinya Likufaksi dan Tsunami.
 
Kalau dulu dianjurkan kepada kita kalau terjadi Gempa Bumi agar berlindung di bawah Meja atau ketempat terbuka, tetapi hal tersebut terbantahkan dengan terjadinya likufaksi di Balaroa, Petobo dan Jono oge, karena pada lapangan terbuka , tanahnya terbelah dan langsung menyedot , ada yang disebut tanah bergerak seperti di Blender ada juga tanahnya yang jadi lumpur dan mengalir sehingga sangat menyusahkan orang untuk menyelamatkan diri kata Gubernur. 
 
Lebih lanjutnya Gubernur Juga menyampaikan kejadian Tsunami yang terjadi sangat aneh, kalau Teori Tsunami menegaskan setelah terjadi Gempa Bumi ada jedah 10 Sampai 15 menit baru terjadi Tsunami atau air laut naik, tetapi kejadian dipalu Terjadi Gempa Bumi 2 menit langsung terjadi Tsunami. jadi tidak ada jedah masyarakat untuk menyelamatkan diri, sehingga melalui kejadian tersebut diharapkan perlu ada Mitigasi Bencana baru untuk disampaikan kepada masyarakat kata Gubernur. untuk itu diharapkan RRI Palu terus meningkatkan Program Mitigasi Bencana ini dengan mengundang para pakar kebencanaan.
 
Gubernur pada kesempatan itu juga meminta kepada masyarakat agar tidak saling menyalahkan karena bencana merupakan takdir dari Allah SWT dan Pemerintah Daerah akan terus berusaha untuk melakukan pemulihan kondisi masyarakat terdampak bencana, yakinlah Pemerintah akan terus hadir ditengah tengah masyarakat .

Dr. Abdullah, MT, Pakar Kebencanaan Universitas Tadulako menyampaikan bahwa sistem mitigasi bencana Kota palu awalnya merupakan sistem migasi bencana tebaik di  indonesia karena Pemerintah Pusat pernah menyerahkan Piagam penghargaan kepada pemda kota palu terkait dengan hal tersebut.
 
Selanjutnya Dr. Abdullah, MT, menyampaikan bahwa musibah tanggal 28 September 2018, merupakan musibah yang tidak hanya soal Gempa Bumi , Tsunami dan Likufaksi tetapi masih ada bencana lainnya seperti Tanah Longsor, downlift, serta bencana banjir yang menjadi perhatian serius pemerintah dalam merumuskan SOP mitigasi bencana di Sulawesi Tengah, ujarnya.

Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba, M.Sc,menyampaikan bahwa melihat karakteristik bencana di Sulawesi Tengah, maka perlu merumuskan kembali SOP tentang Mitigasi Bencana. Perlu dikembangkan alat tradisional sebagai alat peringatan dini bencana seperti yang di gagas oleh RRI saat ini. ***

Pos terkait

banner 580x60