Vaksinasi Masih Rendah (20,21 %) di Sulawesi Tengah, Ternyata Ini Penyebabnya

banner 780x80

Palu,- Realisasi program vaksinasi Covid-19 di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah masih rendah, baru sekitar 20,21 persen untuk dosis pertama dari target 2.135.907 jiwa.
Penerima vaksin dosis pertama mencapai 431.580 jiwa dan penerima dosis kedua sekitar 256.727 jiwa. Dengan kata lain, baru sekitar 2 per 100 penduduk di Sulteng yang mendapatkan dua dosis vaksin Corona jika dibandingkan dengan target 2,13 juta orang.

Berdasarkan data di laman vaksin.kemenkes.go.id per 8 September 2021, tercatat daerah yang memiliki cakupan rendah program vaksinasi ini di antaranya adalah Kabupaten Donggala dengan capaian dosis 1 hanya 7,49 persen, dan dosis 2 hanya 4,46 persen. Selanjutnya di Parimo untuk dosis 1 hanya 10,04 persen, dosis 2 hanya 4,93 persen.
Daerah lain dengan cakupan rendah yakni Sigi untuk dosis 1 hanya 10,36 persen, dan dosis 2 hanya 5,80 persen. Disusul Tojo Una-Una untuk dosis 1 12,24 persen, dan dosis 2 hanya 6,82 persen. Selanjutnya adalah Banggai Kepulauan untuk dosis 1 hanya 14,67 persen, dan dosis 2 hanya 7,5 persen.

Bacaan Lainnya

Sementara untuk daerah dengan cakupan vaksin tertinggi khususnya dosis 1 di antaranya adalah Kota Palu 48,03 persen, Morowali 39,97 persen, Morowali Utara 33,55 persen, Buol 26,5 persen, dan Poso 18,36 persen.
Kategori lansia, masyarakat umum dan anak usia 12 – 17 tahun masih sangat rendah atau di bawah 10 persen dari target masing-masing kategori.

Salah satu penyebab rendahnya vaksinasi ini adalah ketidaksesuaian target vaksinasi. Jumlah penduduk Sulteng 2,9 juta jiwa. Untuk menciptakan Herd Community harus 2,1 juta jiwa yang divaksin. Kalau ingin mengejar yang 2,1 juta hingga 31 Desember, maka perhari butuh 200 ribu.

Sedangkan stock dosis vaksin hingga Rabu (8/9/2021) 175.884 yang akan habis dalam 32 hari ke depan.

Lebih lanjut, gangguan distribusi vaksin memperlambat realisasi vaksinasi, baik distribusi dari pusat ke Sulteng, maupun distribusi vaksin ke berbagai daerah di Sulteng. Masalah operasional pun menjadi faktor penghambat lainnya, seperti keterbatasan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana penunjang seperti puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, dr Komang Adi mengaku sempat ada terjadi kekurangan drop vaksin.

“Tapi sejak minggu kedua Agustus hingga sekarang dropping vaksin dari pusat sudah mulai lancar. Kita berharap ke depannya lancar ketersediaan vaksinnya,” kata dr Komang saat dikonfirmasi di Palu, Kamis (9/9/2021).

Selanjutnya, permasalahan dari tenaga vaksinator di daerah yang terbatas. Dalam satu pelaksanaan vaksinasi diperlukan minimal 6 orang vaksinator. Dari petugas administrasi, vaksinator dan pemantauan.
Kalau dihitung dari setiap kabupaten kota untuk melaksanakan hal itu, dibutuhkan vaksinator se-Sulteng adalah 12.102.

“Olehnya kami bekerja secara bersama sama dengan TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, tokoh agama,Dinas Kesehatan di semua tingkatan, dan lintas sektor lainnya,” ujarnya.
Sejalan dengan gencarnya pelaksanaan vaksinasi dan PPKM Darurat – Level, kini tren kasus Covid-19 harian di Sulteng terus menurun. Kasus harian memuncak pada 26 Agustus 2021 yang mencapai 471 kasus. Namun dalam beberapa terakhir ini sudah turun dan stabil di angka 100 – 180 kasus. ***

Jurnalis kailipost.com: Ikhsan Madjido

Pos terkait