Jelang Setahun Anwar – Reny Pimpin Sulteng, Mau yang Jujur? Mari Diskusikan….

  • Whatsapp


Anwar – Reny, pasca merombak dan mengisi 11 pejabat eselon 2b dan 2a serta 389 eselon 3 dan 4, mau tidak mau harus menghadapi isu asal dan circle ASN. Di warung – warung kopi mulai ada istilah alumni ‘semua STPDN’ atau APDN. Yang tidak, jangan banyak berharap. Bahkan muncul nama – nama oknum alumni STPDN yang jadi operator dan istri dan adeknya dapat jabatan. Termasuk oknum itu kini dapat jabatan keren. Komentar akun – akun di sosial media begitu terang benderang menyebut istilah ‘alaporamo’ pak gub. 

CENDERUNG POLITIS 


Kawan senior jurnalistik di Sulteng, menyebut bahwa Anwar yang berlatar belakang birokrasi (kepala desa sampai bupati) justru lebih politisi dari pada politisi asli. 


Kadang yang dia sampaikan dalam pidato bukan itu yang dilakukan pada akhirnya rentang setahunan. ‘’Iya yakinkan membangun jembatan bukan di atas sungai ibaratnya’’ sindir kawan di sebuah warung kopi ‘paling susupo’ di Palu. 


Mulai polemik anaknya maju menjabat Ketua KONI, sampai dirinya menyiapkan diri akan ikut kontestasi Asprov (PSSI) Sulteng yang dilansir media online olahraga. Nampak foto dan caption ada Anwar Hafid dalam sebuah pertemuan menjelang Musda Asprov. 


Demikian juga komitmennya untuk menata lingkungan kawasan industri dan lokasi pertambangan di Morowali dan Morowali Utara. Niat Anwar belum sepenuhnya dipercaya beberapa tokoh atau elit politik. Selali dikaitkan dirinya yang ikut terlibat menerbitkan izin izin tambang di Morowali. Salah satunya Ahmad H Ali dalam sebuah podcast Total Politik di Jakarta yang diposting di youtube 9 Januari lalu. 


Anwar Hafid, sebagai gubernur tahun ini dan mendatang tantangannya lebih besar, komplek dan lebih sensitif. Baik kemampuan fiskal daerah, program yang langsung ke penerima manfaat, sampai pada pembagian kue pembangunan antar kabupaten dan lingkar luar kabupaten yang berbatasan dengan provinsi tetangga. 


Bila sampai 2028 tak bisa merealisasikan semua sembilan keberanian itu, maka mulai sekarang mesti merevisi keberanian yang penting, mendesak, dan dibutuhkan rakyat. Bila tidak? Tantangan menuju 2029 akan lebih kompetitif. Benarkah? Wallahu a’lam bish-shawab *** 

Berita terkait