Dinding Tentara Republik, Digetarkan Syifa, Gen Z Jadi USA Army 

  • Whatsapp
Screenshot

Catatan Pinggir | redaksi 


DUNIA Nyata milik mereka. Batas generasi sudah mencolok. Pakem, aturan yang beku, ditabrak dengan cara berfikir dan bertindak bukan multi internasionalis lagi. Tapi tepatnya globalist. 

Kezia Syifa. Gen Z, usia 20 tahun menggetarkan dinding beku nomenklatur dan standard lama tentara nasional Indonesia. Timeline sosial media berbunyi, anak Indonesia menjadi Tentara Amerika Serikat. Ramai dibahas sampai grup grup emak emak dan om om yang ngopi sok ahli tata hukum internasional. 

Milenial asal Tangerang mendobrak angkuh dan kakunya aturan di negerinya sendiri. Ia pun diterima menjadi bagian USA Army. Awalnya sejak 2023 sudah tinggal di Maryland bersama keluarga. Ia menggunakan green card  atau permanent resident  Syifa tahun lalu (2025) lulus mengikuti tes formal, bukan ilegal menjadi bagian tentara Amrik. 

Ia bagian logistik di kesatuan USA Army, dengan ciri khas Gen Z hijaber’s. Tepatnya, sebagai MOS 92A, Automated Logistical Specialist. 

Syifa bukan tenteng senjata, tombol senjata kimia, atau pengendali senjata tanpa awak di bagian tempur. Tapi, ia memastikan bahwa tentara tanpa ‘ketahanan pangan’ kala di medan perang bagai jasad manusia kebingungan yang berseragam. 

Syifa mengirim pesan digital maha dahsyat ke elit politik nasional Indonesia, ketika dilepas orang tuanya dengan seragam militer USA berangkat tugas. Sederhana pesannya, ‘’Jadi tentara di Amerika lebih mudah. Nga pakai uang atau orang dalam. Atau anak jenderal’’ 

Kezia Syifa, tanpa sengaja merobek ‘pikiran kolot’ bahwa ternyata di luar negeri negara sekelas Paman Sam, adalah negara sekuler dan anti Islam. Ternyata ia diterima  ‘bertahan dengan jilbab’ di kesatuan USA Army. 

Ia juga mengirim pesan lewat sosial media ke Presiden Jenderal TNI Prabowo Subianto bahwa komitmen menyejahterakan generasi milenial dan Z tak perlu banyak pidato. Membentuk pasukan Cyber Army Indonesia, dan gerakan nyata ketahanan pangan yang melibatkan pemilik bumi (demografi). 

Ini bukan pasukan tempur, bukan pembawa senjata di garis depan, melainkan jantung senyap yang memastikan semuanya berjalan, stok tercatat, gudang tertata, distribusi rapi, peralatan tidak hilang entah ke mana. Dalam bahasa sederhana, tanpa logistik, tentara cuma barisan orang bingung berseragam.

Syifa tak sendirian. Ia menyusul ‘pemberontakan atas kesejahteraan’ personel Marinir dan Brimob desersi, dan bergabung menjadi tentara Rusia. Mereka tak mewakili semua WNI – 250 jutaan jiwa. Tapi ketiganya adalah fakta ! Ada masalah kronis dengan tentara dan polisi kita. Bahkan soal Sila Kelima Pancasila kita. 

Ada yang menggugat kewarganegaraan. Bahkan soal nasionalisme, nilai patriotik. Bahkan ancaman kehilangan status WNI. Syifa mungkin tak sendiri. Banyak anak anak muda kita juga sudah melirik bekerja di luar negeri. Masih ingat yang viral tahun lalu, ‘’Keluar dari Indonesia’’ 

Syifa tak boleh dilihat sebagai obyek aturan kaku yang tak meletakkan anak Gen Z sebagai subyek. Pada ujungnya, apabila green card telah habis masa berlakunya, ia akan memilih. Jiwa dan hati tetap merah putih, tapi ia harus survive sebagai anak muda hijaber’s yang dibelenggu status kewarganegaraan.  *** 

Berita terkait