UMKM dan Bisnis Para Gen Z; Tanpa KADIN 

  • Whatsapp
Screenshot

KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI (KADIN) tiap periodik kepemimpinan hanya elit yang heboh. Viralnya hanya di puncak elit pengusaha jasa konstruksi, konsultan dan bahkan, kurang diminati pengusaha jasa lainnya. Termasuk pelaku UMKM, bisnis berbasis online kaum rebahan serta pengusaha media. Padahal semua sama, wajib punya OSS badan usaha, bayar pajak dan punya karyawan. 


KADIN  memiliki legitimasi kuat karena lahir UU No 1/1987 dan Keputusan Presiden 1973. Awal mula menjadi lembaga nasional KADIN Jakarta mendirikan KADIN Indonesia 24 September 1968. Kini sudah usia 58 tahun, usia lembaga yang matang melahirkan pengusaha pribumi nasional.


KADIN di era revolusi teknologi digital semakin kehilangan posisi. Terlebih di dunia Usaha Menengah Kecil dan Mikro. Atau bisnis Gen Z yang jauh dari sentuhan KADIN. Lembaga dibentuk di era Orde Baru hanya digunakan sebagai lompatan jadi menteri. Di daerah, peran strategisnya kadang dicueki kepala daerah.  


KADIN bagai menara Mercusuar di laut jauh dari perahu perahu nelayan, jauh dari perahu sande. Hanya mengatur kapal – kapal besar. Lampunya hanya terang untuk kapal – kapal tonase. Yang pemiliknya pengusaha – pengusaha ‘mitra pemerintah’ 


KADIN gagal menjadi lembaga yang memperkuat UMKM. Sebagaimana amanat UU No.1/1987.  Berjejer UMKM tumbuh subur di kedai, kedai kopi, somay, gorengan sampai kopi dengan brand lokal apakah wujud kerja nyata KADIN? Pasti para pemodal tak sampai Rp10 jutaan yang ramai di sekitar Balai Kota Timur, Vatulemo 90 persen menjawab bukan !!! 


Sebagai ‘kamar’ dagang dan industri, tanyakan ke KADIN peran aktif dan senyata – nyatanya mengatur tata kelola gelora bisnis trading emas dengan platform online dan mendunia digeluti anak anak Gen Z dan milenial. Pernahkah mereka direkrut menjadi anggota KADIN dan dijadikan sebuah core bisnis anggota masa depan? 


KADIN sibuk dengan dirinya sendiri. Tak sadar dunia sudah berubah. Yang terlibat juga ‘itu itu saja’ dan KADIN sebagai organisasi tak well come dengan pengusaha yang berbasis teknologi digital. Ya kalau di daerah ya pengusaha pengusaha jasa konstruksi dan jasa konsultan saja mendominasi. 


Tengok saja, yang ribut soal kontestasi pergantian ketua di KADIN apakah menarik pebisnis kecil tapi omsetnya setiap hari mengalir seperti air? Apakah kontestasi meresonansi sampai UMKM UMKM yang ‘tumbuh sendiri dan mati pun berdiri lagi’ ? Tidak toh. 


Sambil saya menyeruput kopi usai jalan – jalan pagi di Jembatan Palu IV, seorang kawan pemilik media online dengan bercanda mendohok kata – katanya, ‘’Sejak kapan KADIN menjadi rumah pengusaha media cetak zaman lampau sampai media online Cak..Cak !! Wartawan saja malas beritakan kecuali advertorial hahaha,’’ katanya sambil pamit tinggalkan saya menyeruput kopi yang dijual di sepeda. *** (penulis pernah Dirut Harian Umum Mercusuar hingga 2011, pernah pengusaha ritel hingga 2018 dan kini pemilik media online)

Berita terkait