Mereka bagai anjing yang makan remah – remah (makanan yang jatuh dari meja makan) para penguasa yang pesta pora. Remah – remah itulah yang dibawa pulang untuk menghidupi anak, istri dan suami. Puluhan tahun terjadi dan berlarut. Kisah seorang honorer tenaga kesehatan Kabupaten Donggala yang demonstrasi di kantor gubernur.
Di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, sesuai SK tenaga non ASN, non PPPK, dan non paruh waktu sebanyak 2.000-an menyebar di semua OPD dan sekretariat kantor gubernur. Tapi, data yang ditelisik dalam dua bulan terakhir (Maret – April), ribuan honorer sudah dirumahkan. Tanpa pesangon. Tanpa ucapan terima kasih. Apalagi bunga tanda jasanya menjalankan mesin birokrasi.
Honorer adalah kuli. Buruh. Sama nasibnya dengan buruh pabrik, buruh panggul pasar, buruh bangunan, buruh sawah dan buruh kapal nelayan. Mereka senasib. Walau beda situasi dan suasana. Honorer sedikit rapi, putih hitam bahkan jam kerjanya ‘mengambil-alih’ para ASN.
Awalnya, sejak Januari hingga pertengahan April, ada honorer (baca buruh) di OPD – OPD belum menerima haknya. Bahkan ribut menjelang idul fitri lalu. Wagub Sulteng pun menerima utusan para buruh (baca honorer). Dijanjikan dibayar. Tapi hanya mendapat ‘hagala’ tiap buruh satu juta rupiah. Bukan honor yang dituntut diterima.








