Catatan Pinggir | redaksi
TAK LAMA Provinsi Sulawesi Tengah berusia 62 tahun. Usia yang matang, rentang sejarah dan pengalaman. Memiliki kekayaan alam dan kekayaan sumber daya manusia punya kontribusi di panggung nasional.
Jangan tanya tokoh politik asal Sulteng di level menteri, wakil ketua badar anggaran DPR RI, ada pula wakil ketua MPR RI, ketua harian PSI, hingga di DPR RI. Semua kader Sulteng lahir dari prestasi. Bukan karena lobi dan mesin kader inkubasi. Bukan karbitan lah.
JENDERAL POLISI
Sulteng tak kurang jenderal jenderal TNI. Tapi baru satu jenderal polisi. Adalah Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf. Lahir di sebuah kota kecil Kabupaten Banggai, Luwuk. Lengkapnya, lulusan Akpol 1993 itu kini Brigadir Jendral dan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sulteng.
MENGETUK PINTU TRUNOJOYO
Menjelang peringatan HUT ke 63 Sulteng, sejumlah pihak meminta markas besar Polri di Jalan Trunojoyo memberikan kado terindah kepada rakyat Sulteng. Rakyat yang terikat dengan nilai persatuan dan kesatuan kebangsaan Indonesia.
Provinsi yang tercatat berkontribusi nyata ke devisa negara sektor kekayaan sumber daya alam nikelnya. Tercatat, tahun 2023 lalu Rp500 triliun ke kas APBN. Belum kontribusi gas di Banggai, belum minyak Matindok, belum emas dari Poboya Palu.
Sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, perempuan dan adat ‘mulai menagih janji Jakarta’ terutama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Rakyat Sulteng menyukseskan hingga kini penyelesaian konflik sosial Poso. Mampu menjaga stabilitas daerah utamanya, Agustus kelabu 2025 lalu. Kapolri perlu memberikan apresiasi. Dan saat ini dinanti. Merestui Jenderal Polisi Helmi menjadi pemimpin daerah kami.
JENDERAL POLISI TAK PILIH KASIH
Caranya bergaul tak pilih kasih. Semua elemen ditemui. Dan, selalu berada di sisi masyarakatnya. Sejumlah tracking dan jejak media online, Helmi tak takut kena mutasi bila terkait urusan kemasyarakatan. Lihat saja selalu hadir konflik warga dengan perusahaan investasi.
Helmi jenderal polisi yang tidak membangun alibi. Ia hadir dengan niat dan panggilan hati. Masyarakat yang tenang akan menekan angka kejahatan, kriminalitas dan gangguan ketertiban. Sederhana tapi itulah subtansi Bhayangkara.
ANTI NARKOBA
Jenderal polisi yang dikenal anti dengan ‘main api narko boy’ bahkan tak rahasia lagi di kalangan jurnalis ia polisi benci dengan oknum polisi yang dekat dengan pelaku narko boy. Bukan rahasia, ada oknum polisi yang berkawan bahkan diduga keras dan tak rahasia lagi jadi ‘anjing bandar narko boy’
Tak berlebih, bila kelak jenderal polisi ini menjadi Kapolda Sulteng, ada harapan daerah ini turun level setidaknya ‘bukan jalur sentral narko boy’ di Sulawesi. Bukan pintu masuk barang haram gudang utama Malaysia. Atau menjadi anjing penjaga keluarga bandar narko boy.
Kepada Jenderal Listyo Bapak Kapolri, izinkan kami berharap kado terindah. Kado yang akan menjadi legacy seluruh masyarakat Sulawesi. Khususnya, di tengah Sulawesi. Terima kasih. ***








