Ini pengalaman dua jam yang lalu – Minggu, 12 April 2026, Jalan Balai Timur samping Warkop Balkot Palu. Tujuannya, agar birokrasi demi fiskal melupakan fungsi pelayanan.
TADI Pagi pukul 06.37 Wita dari arah Jalan Veteran masuk Jalan Balai Kota satu buah unit motor petugas polisi. Diarahkan masuk dan depan saya berdiri petugas Dinas Perhubungan Palu. ‘’SIlahkan situ pak parkir,’’ tunjuknya ramah mengarahkan saya menempatkan kendaraan.
Sambil menikmati udara pagi, sengaja kaca mobil sejak dari rumah saya buka. ‘’Empat ribu,’’ petugas itu menyodorkan karcis parkir ke saya di balik kaca mobil. Saya belum mematikan kendaraan. ‘’Bisa saya bayar habis parkir pak,’’ jawab saya di balik kaca.
‘’Tidak bisa pak karena kita sudah mau pergi,’’ jawabnya. Saya pun mencari uang di dalam tas dan beberapa laci mobil, ‘’Waduh gawat tidak ada uang tunai dalam mobil,’’ gumanku lirih. ‘’Pak bisa kiris? Atau saya ke ATM dulu baru saya bayar?,’’ pinta saya agar dapat dispensasi petugas.
Tak saya sangka jawaban begitu sangat ‘menggelikan’ bahkan tak bisa saya bayangkan kalau ‘melayani orang luar Palu’ petugas Dishub ini. Katanya mau jadi Kota Modern (global city) tapi kapasitas, integritas dan moralitas tak dipenuhi sebagai syarat.
‘’Jangan parkir situ karena badan jalan. Ke sana saja,’’ jawabnya sambil mengusir saya. ‘’Sabar istiqfar jangan dilayani,’’ ujar dalam hati sambil berkali kali oknum itu pasti mendengar saya istiqfar. ‘’Komiu tadi arahkan saya parkir di sini. Sekarang kenapa komiu alasan badan jalan. Itu depan saya mobil berjejer semua di badan jalan, kenapa komiu tidak larang? Karena saya tidak bisa cash uang parkir? Kan saya minta tolong mau ke ATM dulu. Komiu sudah larang,’’ cerca saya dengan nada agak geram.
Dasar oknum. Tak mau kalah. Di pikirannya harus ‘habis karcis parkir’ agar atasan beri pujian. Siapa tau TPP bulan depan naik. ‘’Tidak bisa badan jalan ini ke sana saja,’’ usirnya lagi. Saya pun mengikuti perintahnya. Saya keluar dari jalan Balkot dan batal care free day.
Pengalaman ini mungkin banyak dialami warga yang ingin menikmati ‘pelayanan birokrasi’ Pemkot Palu menyediakan CFD. Tapi di sisi lain, ada pelayanan ‘memaksa’ harus bayar parkir dulu 4 ribu. Bagaimana bila peristiwa ini dialami warga luar Palu? Bukankah itu merusak susu satu belanga?
Mestinya petugas Dishub ‘membaca’ dulu apa pengertian parkir, badan jalan, dan bukan badan jalan. Apakah salah parkir di badan jalan? Atau diperbolehkan? Syarat menuju kota global bukan infrastruktur yang terpenting. Tapi revolusi mental aparaturnya. Tabe Pak Wali. ***







