MINGGU Siang, 12 April 2026 Kota Palu menembus 38 derajat celcius. Di sudut Jalan Khairil Anwar saya menemui kawan. Semalam janjian joging bersama, tapi karena ada ‘tragedi parkir Care Free Day’ kami pun tak sempat bersua.
Jadilah kita mojok di sebuah Cafe sambil berteduh di samping Polresta Palu lama. Beberapa orang politisi satu partai politik kawan melingkar meja. ‘’Mari Cak gabung,’’ jawab teman kawan saya. Meja pun penuh isu santapan siang Napane.
Entah basa basi atau serius bertanya, kawan yang wakil rakyat menyodok tanya, ‘’Cak, ucapkan selamat ke Endi Hermawan. Sudah direstui Nandin (sapaan Anindya Bakrie) dia,’’ katanya singkat. Ia pun menjelaskan hal ikhwal mengapa bertanya begitu ke saya.
Disodok pertanyaan begitu, saya pun memancingnya, ‘’Semua akan berkata begitu kalau jadi calon. Maksud saya semua akan punya cara untuk mendapat restu pimpinan tertinggi organisasi apapun,’’ kataku menyelinap tanya menggali.
Kawan pun terpancing. ‘’Iya kebetulan saya telepon teman di Kalimantan. Dia cerita baru saja menemani Endi ketemu Ketum Kadin Anindya,’’ jelas kawan sambil menyeput kopi susunya. ‘’Saya kopi Americano Ice ya,’’ pintaku ke pramusaji yang menyodorkan daftar menu.
‘’Kalau cuma ketemu kan belum tentu restu. Namanya juga ketemu biasa dalam sebuah organisasi. Biasalah,’’ timpal saya dengan nada pancingan kali ini berharap jawaban pasti.
‘’Iya Cak teman saya bilang direstui Endi. Temanku meyakinkan bahwa memang tujuannya pamit dan minta restu,’’ jawabnya kali ini dengan mimik serius. Saya pun pura – pura abai dengan jawabannya agar kawan satu tak curiga sudah terpancing.
Kami pun akhirnya ngobrol tentang ‘tema janjian’ semalam. ‘’Sudahlah kita bahas dulu janjian tadi malam. Musprov Kadin masih dua minggu lagi. Semua bisa berubah dan dinamis. Toh kita dua bukan habitat Kadin,’’ celetuk saya untuk mengakhiri informasinya dan tidak balik banyak bertanya ke saya. ***







