“Kalau ada wilayah yang secara kajian BMKG dinyatakan rawan, jangan dipaksakan membangun kembali di lokasi itu. Kita harus pastikan masyarakat membangun di tempat yang aman agar risiko bencana tidak terulang,” katanya.
Berdasarkan data infografis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total rumah terdampak gempa tercatat sebanyak 4.210 unit, terdiri dari 4.012 unit di Kabupaten Sigi, 92 unit di Kabupaten Parigi Moutong, 18 unit di Kabupaten Poso, dan 88 unit di Kota Palu.
Dari jumlah tersebut, 2.551 rumah mengalami rusak ringan, 1.195 rumah rusak sedang, dan 266 rumah mengalami rusak berat.
Sementara itu, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sigi kini memasuki masa transisi dari tanggap darurat menuju tahap pemulihan, namun seluruh penanganan yang belum tuntas tetap dilanjutkan secara maksimal.
Ia menyebutkan gempa bumi yang terjadi menyebabkan 3 korban jiwa di Kabupaten Sigi, sementara 266 unit rumah rusak berat menjadi prioritas utama percepatan pembangunan hunian sementara.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah membuka kembali akses jalan menuju wilayah Lembah Tongoa yang sebelumnya terdampak, serta terus memperbaiki distribusi air bersih di sejumlah titik terdampak bencana.
“Kami memang telah memasuki masa transisi, tetapi seluruh pekerjaan yang belum selesai pada masa tanggap darurat tetap kami lanjutkan. Fokus kami adalah memastikan masyarakat segera pulih dan dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal,” ujarnya.
Turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut Wakil Bupati Sigi Dr. Samuel Yansen Pongi, S.E., M.Si., Wakil Bupati Parigi Moutong H. Abdul Sahid, S.Pd., Kepala BPBD Provinsi Sulawesi Tengah Ir. Asbudianto, S.T., M.Si., AIFO-P., unsur Forkopimda, perwakilan BMKG, serta seluruh pihak terkait yang terlibat dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah.
( Biro Administrasi Pimpinan )








