Sri Mulyani Ibaratkan Resesi Bagaikan Cuaca Buruk, Simak Caranya Menguatkan Ekonomi Masyarakat

TEMPO/Tony Hartawan

Jakarta,- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengibaratkan resesi sebagai cuaca buruk dengan hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Jika tidak waspada, Indonesia bisa terdampak resesi tersebut.

“Kita bisa kesamber bledeknya dan hujannya ke sini karena hujannya merata. Cuma karena pendoponya bagus, baru, dan nggak bocor, udan deres yo ra popo neng njobo, neng kene tetep kering (di luar hujan deras, tidak apa-apa. Di dalam sini tetap kering),” kata Sri Mulyani, seperti dikutip Tempo, Ahad, 22 Januari 2023.

Baca Juga

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani membeberkan guncangan-guncangan pada perekonomian dunia, mulai dari Covid-19 hingga perang Ukraina dan Rusia. Oleh sebab itu, ekonomi dunia masih melemah.

“Dalam situasi seperti ini, sama seperti ancaman pandemi, sama dengan ancaman harga minyak yang melonjak, harga pangan yang melonjak, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) itu menjadi instrumen yang luar biasa penting untuk menjaga Indonesia, jaga masyarakatnya, jaga ekonominya, jaga dunia usahanya,” tuturnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mencapai 5 persen dibanding periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini cukup bagus dibanding banyak negara yang diperkirakan hanya akan bertumbuh 2 persen sampai 3 persen.

Kendati begitu, kata Sri Mulyani, pemerintah masih akan terus menjaga tren pemulihan ekonomi nasional di tengah risiko resesi global.

“Kita akan jaga perekonomian yang tumbuh tinggi agar tetap bertahan pada 2023. Kita akan tetap menjaga faktor-faktor yang mendukung perekonomian nasional, salah satunya konsumsi,” kata Sri Mulyani.

Berikut cara Sri Mulyani lewat Kementerian Keuangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam menguatkan ekonomi masyarakat yang dirangkum Tempo.

Menjaga konsumsi masyarakat

Untuk menjaga konsumsi masyarakat, kata Sri Mulyani, pemerintah mengalokasikan dana senilai Rp 104 triliun untuk program ketahanan pangan guna menjaga harga pangan agar tidak mengalami inflasi yang terlalu tinggi.

Sri Mulyani juga berharap berbagai riset dapat dilakukan, baik oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun oleh institusi riset lain, untuk meningkatkan produktivitas bahan pangan dari sisi pembibitan, pemupukan, dan pengairan.

Menjaga daya beli masyarakat

Selain itu, kata perempuan yang akrab dipanggil Ani itu, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat rentan melalui program-program perlindungan sosial, seperti Program Keluarga Harapan, pemberian sembako, dan penyaluran subsidi, termasuk subsidi energi yang harganya mengalami kenaikan signifikan di 2022.

“Kita menjaga daya beli masyarakat sampai subsidi naik tiga kali lipat. Keuangan negara harus sehat agar bisa menjaga masyarakat, jadi untuk inflasi saja, kita melakukan banyak hal,” ucapnya.

Meningkatkan KUR

Pemerintah juga meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi menjadi senilai Rp 370 triliun dengan suku bunga rendah hingga 3 persen.

“Kita akan terus menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Sri Mulyani. ***

Editor/Sumber: Riky/Tempo.co

Berita terkait