Kementan: Peremajaan Sawit dalam 6 Tahun Masih Rendah Tak Capai 10%

  • Whatsapp
Presiden Joko Widodo bertemu dengan para petani sawit di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Senin (27/11/2017)/Foto: Grandyos Zafna

Jakarta,- Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sangat minim. Selama enam tahun terakhir dari 2017-2022 hanya 278.200 hektare (ha), padahal Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah mengungkap setidaknya ada 2,8 juta hektare lahan sawit yang potensial untuk diremajakan.

Jika dihitung persentasenya, artinya realisasinya hanya 9,93% saja. Angka itu, dari total lahan sawit 2,8 juta ha yang potensial di Indonesia untuk diremajakan.

“Kita bersama memahami bahwa realisasi PSR masih sangat rendah sejak tahun 2017-2022 capaian kita sebesar 278.200 hektare. Setidaknya terdapat 2,8 juta hektar ulasan sawit rakyat yang potensial untuk diremajakan,” ujar Andi dalam Rakornas Kelapa Sawit 2023 di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Senin (27/2/2023).

Andi mengakui bahwa capaian realisasi program peremajaan sawit belum sesuai harapan. Padahal target pemerintah 180.000 ha per tahun. Untuk itu Kementerian Pertanian melakukan rapat koordinasi nasional yang menghadiri petani sawit, pengusaha dan BPDPKS.

“Salah satu strategis tersebut melalui penyelenggaraan rakornas di mana kami menghadirkan seluruh stakeholder yang terdiri dari unsur pemerintah daerah provinsi kabupaten kota, perusahaan kelapa sawit yang melakukan kemitraan dengan program PSR serta asosiasi usaha baik perkebunan maupun perusahaan perkebunan,” ungkapnya.

Dalam rakortas kelapa sawit ini juga, menghadirkan kementerian dan lembaga di tingkat pusat yang ikut dalam program PSR terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan BPDPKS.

“Menghadirkan juga KPK untuk memberikan dukungan dalam akselerasi program strategis nasional pemberantasan korupsi agar pelaksanaan program PSR bisa berjalan dengan baik,” lanjutnya.

Andi mengungkapkan bahwa program PSR merupakan momentum perbaikan tata kelola perkebunan sawit rakyat secara berkelanjutan sebagai wujud komitmen bersama meningkatkan produktivitas kebun rakyat yang pada akhirnya untuk peningkatan kesejahteraan pekebun.

“Peremajaan sawit rakyat jangan hanya dipandang bagaimana cara kita memperbaiki tanaman kelapa sawit yang sudah tua atau tidak produktif saja. Tapi peremajaan sawit rakyat harus mampu menciptakan inovasi, optimalisasi sumber daya lahan serta pemberdayaan bagi petani sawit,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Program PSR merupakan salah satu Program Strategis Nasional sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit nasional. Saat ini rata rata sebesar 3-4 ton/hektare dan umur tanaman di atas 25 tahun.

Pelaksanaan program PSR dengan penggunaan bibit unggul dan penerapan Good Agriculture Practice (GAP) dinilai akan meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pekebun rakyat secara optimal.

Program PSR merupakan salah satu Program Strategis Nasional sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit nasional. Saat ini rata rata sebesar 3-4 ton/hektare dan umur tanaman di atas 25 tahun.

Pelaksanaan program PSR dengan penggunaan bibit unggul dan penerapan Good Agriculture Practice (GAP) dinilai akan meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pekebun rakyat secara optimal. ***

Editor/Sumber: Riky/Detik.com

Berita terkait