Sulawesi Tengah Alami Overheating Ekonomi; Tumbuh Melejit, Dihantui Inflasi 

  • Whatsapp


SULTENG – Teori ekonomi standar diuji oleh situasi dan perubahan global saat ini. Pertumbuhan ekonomi pasti mendorong peningkatan kesejahteraan (standar hidup) sosial, penciptaan lapangan kerja, kenaikan pendapatan per kapita dan pembangunan sosial, investasi dan inovasi. 


Bagaimana dengan situasi dan kondisi pertumbuhan ekonomi melejit tapi dibayangi dengan inflasi? Secara teori disebut ‘ekonomi memanas’ atau Overheating, sebagaimana disampaikan dalam laman google produksi AI. 

Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat menimbulkan tekanan inflasi karena beberapa faktor: Permintaan Agregat Melebihi Pasokan (Demand-Pull Inflation): Ketika ekonomi tumbuh pesat, daya beli dan belanja konsumen meningkat drastis. Jika produksi barang dan jasa tidak dapat mengimbangi lonjakan permintaan ini, harga akan naik karena permintaan melampaui penawaran.

Kenaikan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation): Dalam periode ekspansi, permintaan akan faktor produksi seperti bahan bakar, bahan baku, dan tenaga kerja juga meningkat, menyebabkan biaya produksi naik. Bisnis kemudian membebankan biaya tambahan ini kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.

Pasar Tenaga Kerja yang Ketat: Tingkat pengangguran yang rendah sering kali berarti perusahaan harus menawarkan upah yang lebih tinggi untuk menarik dan mempertahankan pekerja. Kenaikan upah ini dapat diteruskan ke harga barang dan jasa.

Peningkatan Harga Aset: Selama ledakan ekonomi (economic boom), harga aset seperti saham dan properti cenderung naik, meningkatkan kekayaan (perceived wealth) yang mendorong belanja lebih lanjut, menambah tekanan inflasi. 

PERINGATAN PEMPROV SULTENG 

Perekonomian Sulteng tahun 2025 menunjukkan performa meyakinkan. Tumbuh hingga 7,79% pada Triwulan III, tertinggi di Pulau Sulawesi dan tertinggi kedua secara nasional.

Momentum positif ini harus terus dijaga lewat kolaborasi multi-pihak yang terbangun lewat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Sulteng Tahun 2025 (28/11/2025). 

Asisten Pemerintahan dan Kesra Dr. Fahrudin, S.Sos., M.Si bersyukur atas capaian tersebut, namun juga mengingatkan semua pihak agar tetap mewaspadai tren inflasi Sulteng yang fluktuatif.

Karena itu, ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diimbangi pula dengan upaya menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat tidak menurun.

“Upaya pengendalian inflasi, stabilitas harga pangan, dan penguatan sektor distribusi harus terus diperkuat melalui sinergi kolektif,” imbuhnya, terutama pada momen-momen krusial seperti natal dan tahun baru (nataru).

Senada dengan itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulteng Miftachul Choiri turut menekankan pentingnya kolaborasi multi-pihak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Sulteng dan resiliensi terhadap megatren ekonomi global yang penuh gejolak.

Karena itu, tema PTBI 2025, “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, diharapkan jadi spirit dalam membangun perekonomian Sulteng. *** 

Berita terkait