PALU – Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Kota inklusi, beraneka ragam budaya, adat dan agama serta kepercayaan. Suku bangsa nusantara dan Asia serta dari Arab dan India.
Ada Klenteng, tempat ibadah agama warga Tionghoa usianya lebih tua dari kota Kaledo itu sendiri. Hidup rukun, dan saling menjaga. Anak – anak Tionghoa sekolah di Muhammadiyah dan DDI. Anak asli Kaili bahkan ada sekolah di SMP Katolik. Itulah kawasan Ujuna, Palu Barat.
Kini, 80 tahun Hari Amal Kementerian Agama RI Bhakti merefleksikan diri membangun bangsa dengan sumber luhur keberagamaan. Upacara dipimpin Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid Sabtu (03/01/2026).
Kehadiran Kemenag dari perspektif sejarah bangsa merupakan kebutuhan nyata Indonesia yang majemuk. Republik ini dibangun melalui sinergi seluruh elemen bangsa. Kemenag hadir untuk memastikan kehidupan keagamaan tumbuh damai, rukun, adil, serta sejahtera.
80 tahun, Kemenag berperan sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Sepanjang 2025, Kemenag juga telah memperkuat fondasi “Kemenag Berdampak”, yang diwujudkan melalui berbagai program nyata, termasuk transformasi digital layanan keagamaan agar lebih transparan, cepat, dan mudah diakses masyarakat.
Di bidang ekonomi umat, penguatan dilakukan melalui pemberdayaan pesantren serta optimalisasi zakat, wakaf, infak, sedekah, dan berbagai dana sosial keagamaan lintas agama.
Menteri Agama juga menyoroti tantangan zaman, khususnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).
ASN Kementerian Agama diharapkan mampu mewarnai perkembangan AI dengan konten keagamaan yang moderat, sejuk, mencerahkan, serta berlandaskan nilai ketuhanan dan kemanusiaan, agar teknologi menjadi alat pemersatu, bukan sumber perpecahan. ***








