PALU – Pelantikan 36 Pejabat Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah menyisakan kesedihan keluarga Muhammad Nadir Lembah MSi. Pagi itu 31 Desember 2025 datang ditemani sang istri namun hanya menyaksikan pencopotan dari jabatan.
Beberapa kerabat Nadir memberikan keterangan ke redaksi, Minggu (3/1/2026) di Palu. Tujuannya mempertanyakan surat undangan pelantikan, namun sesampai di kantor gubernur tak dilantik. ‘’Apa ada kesalahan atau memang saat itu dirubah batal dilantik atau memang dicopot atau bemana ini?,’’ terang keluarga.
Nadir adalah alumni IPDN, lahir di Tawaeli jabatan sebelumnya adalah Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD). Ia digantikan Ikhsan Basier, mantan staf ahli gubernur sebelumnya.
Kerabat keluarga juga menunggu apakah ada konfirmasi kesalahan pelantikan 36 pejabat atau tidak, ternyata hingga Minggu tak ada satu pun koreksi. ‘’Diundang ini pak Amplopnya. Isinya akan dilantik. Tapi dicopot, ini maksudnya apa? Kita tidak mempersoalkan siapa yang dilantik tapi jangan pandang enteng,’’ tegas mereka yang meminta satu saat akan mereka tau identitasnya.
PROTES MEDSOS
Akun @H Abd Fahar lini masanya mencuit, aneh bin ajaib kabupaten Parimo menyumbang suara terbanyak pada pemilihan gubernur giliran sudah menang tidak ada mewakili parimo untuk menjabat kadis. Postingan itu tersebar di WAG sekitar Palu. Pemilik akun sendiri H Fahar, biasa disapa haji Onggol hingga berita ini ditayangkan masih terus dikonfirmasi.

GELIAT PROTES
Sementara itu, pihak Pemprov menyebut setiap pelantikan pasti ada yang tak puas dan puas. Kesulitan utama menyenangkan semua hati manusia. ‘’Biasa itu ada yang tidak puas dan puas. Tapi kalau ada yang dicopot itu nanti saya tanyakan Senin,’’ ujar salah satu mantan timses Anwar Hafid.
Selain Nadir diprediksi akan ada gelombang protes pasca pelantikan 36 kotak jabatan tersebut. Karena salah satunya pemindahan pejabat tak mempertimbangkan meritoraksi dan rumpun jabatan. ‘’Ada kesan ada yang kena sanksi dipindah dari jabatan semula. Ada apa itu? Bisa tidak dijelaskan?,’’ terang salah satu warga Tawaeli ke redaksi di Warung Kopi Balkot Palu Timur.
‘’Ada yang tetap, apa pertimbangan? Karena anak ini itu? Ponakan ini itu? Atau ada pejabat pusat telpon sampai bisa dapat jabatan itu? Tunggu saya bongkar semua,’’ ancamnya sambil menambahkan bahwa sebelum melantik gubernur salat tahajud tapi menyakiti keluarga orang. ***








