PALU, 02 September 2026 – Hari ini, terdeteksi sebanyak 9.100 titik panas di Provinsi Sulawesi Tengah. Sepekan ini, berturut turut kebakaran rumah warga dan sekolah di Kota Palu. Hari ini, setidaknya tercatat enam kebakaran. Lima rumah di Jalan Otista Palu Timur, dan kebakaran lahan di Tipo, depan gudang kelor. Pemadaman listrik bergilir akibat debit air menurun di sungai Poso.
Gubernur Anwar Hafid (31/8/2026) sendiri menyitir laporan Data BPB Sulteng, Karhutla terjadi di beberapa titik api terpantau di wilayah Kota Palu, kawasan Poboya dengan luas sekitar satu hektare.
Kabupaten Tojo Una-Una menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla cukup besar. Beberapa desa terdampak, bahkan terdapat lokasi yang luas lahan terbakar mencapai sekitar 83 hektare. Karhutla juga di Kabupaten Banggai, Donggala, Parigi Moutong, Tolitoli, Poso, dan Buol.
TIDAK KONKRIT
‘’Mestinya setelah rapat itu ada tindak lanjut konkret gubernur bupati dan wali kota merumuskan langkah strategis yang langsung ke masyarakat. Sudah bisa ditetapkan bencana panas dan kebakaran. Bukan sekadar rapat merekap dan merekam kejadian tapi tidak konkret pencegahan. Semua mirip pemadam kebakaran. Ada kejadian baru bertindak,’’ sindir Andhika, kelompok sipil yang aktif sebagai Komunitas Warung Kopi di Kota Palu.
Ketika redaksi menulis berita ini, kembali mendapat laporan kebakaran lahan Jalan Pue Njula Kelurahan Tipo (jalan menuju pabrik Kelor), Ulujadi Kota Palu. ‘’Belum ada penanganan barusan saya lewat sudah ada api di lahan lahan kering,’’ ujar Ronal ke redaksi.
MITIGASI BENCANA
Komunitas Warkop menyoroti kepekaan pejabat dengan situasi kemarau dan makin luasnya titik api panas dan kebakaran sarana publik (sekolah) dan permukiman warga. ‘’Tidak punya road map mitigasi bencana sepertinya. Harusnya segera tetapkan bencana buat refocusing atau geser anggaran. Segera semua titik instruksikan pemadam kebakaran ditambah, kekeringan kekurangan air bersih ditambah, pangan disiapkan dan kasus kasus yang rumahnya terbakar bagaimana penanganannya. Itu kan manusia sudah jadi pengungsi. Apa hadir pasca rumahnya terbakar? Kalau orang susah air, listrik pemadaman bergilir, rumahnya terbakar akan terus bertambah jangan kaget nanti mereka protes, demo atau kalau sudah lapar kemana?,’’ terang Andhika.
Ia mengingatkan jangan sampai pemerintah daerah lambat. Sudah banyak kasus masyarakat melampiaskan emosi ke armada pemadam kebakaran. ‘’Jangan sampai terjadi olehnya kami mengingatkan segera Pak gubernur dan Pak Bupati Pak Wali segera masing masing lakukan mitigasi bencana panas dan kebakaran lahan. Jangan cuma rapat solusi tidak konkret. Sedot air laut, tumpahkan ke awan awan agar membuat hujan. Sewa Helikopter. Sedot sungai siram lahan lahan kering,’’ tandasnya. ***








