Edmond: Sony Salah Jalan, Ini Faktanya !

  • Whatsapp
Reportase  : andono wibisono

SONTAK
Ajang silaturahim Idul Fitri – Open house di kediaman Bendahara Umum (bendum)
Partai Nasdem, Akhmad H Ali berubah aroma politik. Dikutip dari sebuah media
online (kabarselebes.com)  anggota DPRD
Sulteng, Sony Tandra di tempat itu terang-terangan mengaku pindah ke Nasdem. Lantas
apa reaksi dari publik?

Salah satu mantan kader Partai Nasdem Sulteng, Edmond
Leonardo Siahaan justru menilai bahwa Sonny salah jalan. Kok salah jalan? ‘’Iya
ini alasan saya,’’ terangnya.  

Pertama; kata Edmond, Gerindra lebih baik manajemen,
kepemimpinan dan strukturnya. Kedua; manajemen kepartaian dan keanggotaana di
dewan lebih baik. Contohnya; potongan gaji Anleg Gerindra lebih kecil dibanding
Nasdem. Selanjutnya, pemotongan gaji transparan. ‘’Buktinya kantor mereka jadi,
megah dan atas nama Gerindra alias bukan atas nama ketuanya sertifikatnya. Coba
tanya Nasdem saya kurang tahu coba cek sertifikat kantornya atas nama siapa,’’
ujarnya dengan nada bertanya.

Fakta ketiga; yaitu soal leadership. Di Gerindra jelas terbaik.
Contoh tidak ada PAW (pengganti antar waktu) di Gerindra. Padahal, kata
pengacara Sulteng itu, banyak yang mblalelo di Gerindra.

‘’Tapi Pak Gub kan sangat bijaksana menangani ini. Tidak
ada yang di PAW padahal saya tahu persis ada sekitar dua atau tiga nama yang
sudah santer mau di PAW. Ini yang bikin saya salut dengan pak Gubernur selaku
ketua partai, dia dewasa, bijaksana, tidak banyak omong apalagi
sewenang-wenang,’’ terangnya lagi.

Fakta keempat; saya kira pasti kader-kader Gerindra yang
pindah ke Nasdem akhirnya akan menyesal. Kenapa?  ‘’karena tidak sesuai dengan harapan mereka.
Contoh yang jadi ketua Nasdem di Parmout, dia mau bikin apa sekarang? Nasdem
cuma jadi penonton di Pilkada. Emang enak jadi politikus penonton? Hasrat
politiknya kan tidak tersalurkan,’’ tandas Edmond lagi.

Fakta kelima; kata Edmond, lihat fenomena sekarang di Pilkada-pilkada
se Indonesia sekarang. PDIP lebih memilih berkoalisi dengan Gerindra, contoh di
Morowali dan Parmout. Apa itu artinya? Artinya yang akhirnya cocok secara
platform adalah PDI dan Gerindra bukan dengan Nasdem. ‘’Ini fenomena yg harus
diperhatikan masyarakat pemilih,’’ tutupnya.**

Berita terkait