Menatap Indonesia, Menanti Harapan

banner 728x90

Meningkatnya Kasus Korupsi
Berdasarkan data yang rilis Indonesia Corruption Watch (ICW) pada tanggal 28 April 2022, ICW mencatat ada 533 penindakan kasus korupsi yang dilakukan aparat penegak hukum (APH) sepanjang 2021. Dari seluruh kasus tersebut, total potensi kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp29,4 triliun, dari data tersebut menunjukkan bahwa betapa buruknya komponen (pengelola negara) bangsa kita, hal ini imbas dari lemahnya SDM kultur integritas komponen pengelola negara, dimana kejujuran sudah tak lagi dikedepankan, terlebih maraknya kasus korupsi tersebut terjadi ditengah krisis moneter dan krisis ekonomi yang melanda dunia dan Indonesia akibat Pandemi Covid-19.

Revolusi Mental Masih Jauh Dari Harapan
Revolusi mental dicetuskan oleh Ir. Soekarno, dicetuskan saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. revolusi mental saat itu agar supaya Negara Indonesia menjadi Negara yang berdaulat dalam aspek politik, dan mandiri dalam hal ekonomi, dan berkarakter dalam hal sosial budaya. tidak hanya Ir. Soekarno, presiden Jokowi pun menyerukan revolusi mental, dimana adanya sebuah Gerakan Nasional revolusi mental (GNRM), yang dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkrakter.
tetapi ternyata revolusi mental saat ini Masih sangat jauh dari harapan, Revolusi Mental hanya nampak sebuah slogan yang di hembuskan, buktinya mental para elit saat ini banyak yang bermental korup dan banyak terjerat kasus.

Mantan Preside RI Ke- 4 KH. Abdurahman Wahid (Gusdur) Dalam Guraunnya pernah nyatakan bahwa; tipe manusia kelas dunia dalam tiga kluster. Kluster 1, negara dengan banyak bicara-banyak bekerja (contohnya Amerika, dan China). Kluster 2, negara dengan sedikit bicara banyak bekerja (contohnya Jepang, Korea). Kluster 3, negara dengan sedikit bicara sedikit bekerja (Afrika, dan lain-lain). Gus Dur sama sekali tidak menyebutkan Indonesia berada dalam kluster mana, tetapi di akhir guyonannya Gus Dur menyatakan “mengapa Indonesia tidak berada di ketiga kluster itu, karena di Indonesia apa yang dikatakan dan apa yang akan dikerjakan berbeda”. Mungkin gurauan atau guyonan Gus Dur ada maknanya.

Tugas Barat Bawaslu Didepan Mata
Ada seribu satu cerita dibalik Pilpres 2019 dan Pilkada 2020 beberapa saat yang lalu, Ratusan perkara sengketa pilkada bermuara ke Mahkamah Kontitusi (MK) dan dapat disimpulkan gugatan-gugatan itu tidak dapat diterima, begitupun sengketa dugaan pelanggaran Pemilu 2019 yang dianggap terstruktur, sistematis, massif (TSM) oleh salah satu pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden. karena tidak memiliki bukti pelanggaran, Pelanggaran pemilu seolah seperti kentut, tidak tampak dan tidak bisa dipegang, hanya bau pelanggarannya yang tercium oleh mereka yang masih memiliki penciuman tingkat tinggi.

Berita terkait