SULTENG – Provinsi Sulawesi Tengah pertumbuhan ekonominya terbaik kedua nasional, tapi paradoksnya, inflasi juga melaju tajam. Januari lalu (2026) tercatat mencapai titik ketidakwajaran alias menguatirkan 4,55 persen. Demikian diekspos Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng 2 Februari lalu.
Kenaikan inflasi bukti akan melemahkan daya beli masyarakat karena lonjakan harga pangan dan kebutuhan. Dengan indek Harga Konsumen 110,72. Inflasi tertinggi di Tolitoli 6,54 persen. Inflasi terendah justru di wilayah industri pertambangan yaitu Morowali hanya 2,63 persen.
Menyikapi itu, Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido menggelar rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota se-Sulteng guna mengantisipasi infalsi mendekati Idul Fitri 1447 H.
Forum tersebut digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis pagi (26/2), dan dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Reny, sebagai ruang konsolidasi daerah dalam menghadapi tekanan inflasi yang kembali meningkat di awal tahun 2026.
Wagub menuturkan inflasi Januari 2026 bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan, setelah sebelumnya pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga berada pada level toleransi 3,5%.
Kondisi ini tegasnya menjadi sinyal kuat agar seluruh unsur TPID se Sulteng menerapkan langkah-langkah antisipatif sejak dini. Perubahan cuaca ekstrem mempengaruhi produksi pangan di Sulteng sehingga menyebabkan kenaikan harga komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur dan beras. ***








