BRI RASA PEGADAIAN

Foto: jurnalnews
banner 780x80

Oleh: Joko Intarto

Kabar burung itu sepertinya benar. PT Pegadaian akan dimerger dengan PT Bank Rakyat Indonesia dan PT Permodalan Nasional Madani menjadi satu lembaga bisnis baru: Holding ultramikro.

Sejauh ini memang belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang memiliki otoritas. Kabarnya masih sebatas rumor. Selentingan. Hanya saja kian hari kian santer. Tiga lembaga keuangan itu akan menjadi satu. Namanya Holding Ultramikro.

Bacaan Lainnya

Malam ini saya baru bisa menyimpulkan, kabar mergernya lembaga keuangan milik negara itu, sudah kian dekat. Sudah ada yang menyebutkan dengan jelas: Arya Sinulingga, mantan wartawan, yang sekarang menjadi juru bicara Kementerian BUMN. Tiga perusahaan pelat merah itu disebut dengan jelas: Pegadaian, BRI dan PNM.

Bagaimana bentuk lembaga ini kelak? Siapa yang akan menjadi leader? Apa nama barunya?
Saya tidak tahu pasti latar belakang penyatuan tiga lembaga keuangan yang berbeda DNA itu. BRI adalah bank dengan layanan jauh hingga pedesaan. PNM lembaga keuangan yang konsentrasinya melayani nasabah kelas gurem. Sedangkan Pegadaian merupakan sahabat semua kalangan.

Dari tiga lembaga keuangan itu, hanya PNM yang sepertinya masih kental dengan image lamanya: Melayani pasar bawah.

BRI yang dulu disebut ‘bank ndeso’, sekarang punya image sebagai bank modern dengan aneka produknya yang menyasar pasar perkotaan dan milenial. Nasabah juga bukan hanya petani. Nasabah korporasinya saya rasa juga tidak bisa dibilang kecil.
Image Pegadaian pun sudah bukan lagi sahabat di kala duka dan menderita. Pegadaian sudah menjadi sahabat semua kalangan: Masyarakat kecil hingga kaya raya.

Dulu, orang merasa malu kalau ketahuan pergi ke Pegadaian. Itu sebabnya di masa lalu, konter Pegadaian tidak menghadap ke pintu masuk utama. Konter pelayanan Pegadaian dibuat di samping. Tujuannya agar nasabah tidak terlihat tamu-tamu yang datang, saat menggadaikan barang.

Sekarang nasabah Pegadaian bukan orang susah. Mereka datang bukan untuk menggadaikan barang melainkan untuk berinvestasi emas mulia. Dalam bidang ini, Pegadaian memang jagoan. Dan sangat kredibel.

Di BRI saya nasabah tabungan. Perusahaan saya pun berstatus sama. Tidak terasa sudah lebih dari 10 tahun. Tapi saya tidak punya kenangan istimewa dengan BRI. Tidak ada yang layak dinggah di fitur story.

Beda denga Pegadaian. Di BUMN ini, saya punya banyak status.

  1. Nasabah investasi emas mulia. Sejak enam tahun lalu, saya mulai mengenal tabungan yang aman dari inflasi, yakni emas mulia. Pak #Syahrul_Rusli yang memperkenalkan skema tabungan itu. Eh, keterusan sampai sekarang.
  2. Nasabah UKM. Sebagian modal kerja Jagaters diperoleh dari menggadaikan emas mulia milik istri saya. Setelah proyek selesai dan pembayaran masuk, kantor yang menebus dan mengganti cost of fund-nya.
  3. Penulis buku. Ada beberapa judul buku yang saya selesaikan. Yang masih saya ingat: ‘’Semua Orang Bisa Sukses’’ baik jilid I maupun jilid II. ‘’Investasi Mulia’’, kolaborasi penulisan bersama lebih dari 30 manager cabang Pegadaian. Ada lagi ‘’Kemilau Bisnis Gadai’’. Dalam dua buku terakhir ini, peran saya hanya sebagai editor saja.
  4. Meski tidak banyak menulis buku tentang Pegadaian, saya cukup dikenal di beberapa kantor cabang Pegadaian. Di Banyumas, kepala kantornya mengenali saya. Untung saat itu saya sedang singgah untuk membeli emas mulia. Tapi di Tebet, pimpinannya mengenali saya saat menggadaikan emas mulia.

Entah sudah berapa kali koleksi emas mulia milik istri saya harus ‘disekolahkan’ di Pegadaian. Baru ‘lulus’ beberapa bulan, sudah harus ‘masuk’ lagi.

Apakah saya masih bisa seleluasa sekarang berhubungan dengan Pegadaian pasca merger? Entahlah. Yang pasti, bila rencana merger itu direalisasikan, saya mungkin harus menulis buku baru tentang tamatnya dua lembaga keuangan legendaris yang usianya sudah lebih dari seabad itu: Bank BRI dan Pegadaian.(jto)

Jto – wartawan ekonomi satu liting dg ayah dl di bogor. ***

Pos terkait