Kahutla Avolua Sirene Ancaman Hilangnya Hutan Sulteng, di Tengah Isu Smelter Nikel? 

  • Whatsapp
Screenshot

CATATAN PINGGIR | REDAKSI 


VIRAL DIBAHAS di sosial media kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) Desa Ovolua Parigi Utara hingga kini. Akun kebunkopi.info di platform Tiktok memosting beberapa video kompilasi kebakaran beberapa gunung masih hutan dan beberapa kebun kelapa warga. 

Sampai pukul 23.00 Wita (2/3/2026) drone diterbangkan menghasilkan video hingga memotret sejumlah titik api. Ratusan komentar pun menyerbu postingan 11 jam lalu. 

Benarkah ini organik Kahutla akibat musim kemarau datang? Atau akibat pembukaan lahan yang merajelela oleh warga hingga memicu kebakaran tak terkendali. 

Merebak spekulasi liar di kolom komentar komentar di sosial media bahwa pemicu adalah akan masuk investasi industri pertambangan menggunakan Smelter Nikel bertenaga non batu bara. Pernyataan itu disampaikan Gubernur Anwar di acara Pelantikan KADIN Parigi Moutong. 

Pernyataan gubernur dianggap merangsang warga menyiapkan lahan, untuk dibebaskan nantinya sebagai kawasan industri pertambangan pengolahan nikel. Mengapa Avolua? Desa ini pernah disiapkan menjadi lokasi ‘jalan tol’ ke Pelabuhan Pantoloan untuk mobilisasi nikel dari Morowali melalui laut. Ketimbang melalui jalan Kebun Kopi. 

Mantan kepala desa Ovolua yang telah meninggal dunia sempat didatangi sejumlah pihak meminta lahan. Tapi entah mengapa mega proyek itu tak terdengar lagi. 

Gubernur Anwar Hafid mesti tak sekadar ‘manis berpidata’ di mimbar namun tak sensitif dengan dampak dan resonansi pernyataannya. Tanah yang tak berharga akan menjadi ‘emas’ bila sebuah investasi datang. Terlebih investasi asing.   

Sulteng salah satu provinsi setiap tahun mengalami deforestasi lahan hutan menjadi non hutan. Puluhan ribu hektare lahan hutan hilang setiap tahunnya. 

13.200 ha di 2024 dan bahkan tembus 19.000 ha di 2025, terutama karena ekspansi perkebunan sawit dan pertambangan nikel, dengan Morowali menjadi daerah terparah. Dalam sembilan tahun (2015-2024), lebih dari 425.000 ha hutan hilang, menunjukkan laju yang terus berlangsung akibat aktivitas multi-sektor. *** 

Berita terkait