Ujian Konsistensi Politik Jawa Jokowi

Foto: Jokowi/kailipost.com
banner 728x90

Oleh : Cak Ando Wibisono (praktisi media)

AGUSTUS 2023 ditentukan siapa saja calon presiden Indonesia periode 2024 – 2029. Namun, Juni 2022 tensi politiknya sudah berasa mendekati kulminasi hari – hari ini. Polarisasi dukungan pun hari hari ini sampai ke depan mudah ditebak di level elit.

Pilpres tanpa incumbent memang menyita semua kekuatan politik. Karena tidak ada yang ‘unggul’ kekuatan kekuasaan. Seperti mengisi BBM di SPBU. Semua dimulai dari angka NOL. Teoritisnya. Dan semestinya demikian.

Baca Juga

Tapi faktanya? Apakah demikian. Mari melihat dari pespektif komunikasi politik elit dan di sisi lain komunikasi politik arus bawah di level sosial media dan media maenstream. Semoga dua arah ini seridaknya membela potret demokrasi Indonesia menuju tahun emas 2045.

Bakal calon presiden Indonesia yang terpotret media adalah; Anies, Ganjar, dan Prabowo. Level kedua ada nama AHY, Puan, dan Erick. Kan pusaran headline media cenderung nama nama ini saja. Pun demikian di sosial media.

Kecenderungan besar secara masif yaitu munculnya fanpage, halaman dan akun akun berbayar ‘kampanye capres’ akun akun itu menyeronok masuk ke facebook, Tiktok, IG dan twitter. Terbanyak adalah Anies, Ganjar dan Erick. AHY dan Puan masih belum masif di sosmed. Kampanye murah biaya iklannya ke grup meta, presisi sesuai wilayah, usia, profesi titik pesan. Ini menunjukkan bahwa komunikasi politik digital di Indonesia cukup maju.

Berita terkait