‘’Ah bukan dipecat, tapi memang mundur dan sudah dibacakan surat Pak Hadi kok di acara itu (di Jakarta),’’ kata sumber saya via telepon. Ia juga memastikan Hadianto sampai kini belum memutuskan pilihan partai berlabuh. ‘’Tidak buru-buru,’’ aku sumber.
Sumber menyebut bila nanti UU memutuskan skema Pilkada lewat DPRD, Hadi dipastikan akan berlabuh ke partai politik dengan jumlah kursi signifikan. Misalnya, Partai Gerindra Sulteng atau ‘Ketua’ Ormas onderbouw (sayap politik partai atau Ormas partai). ‘’Bisa juga Golkar tapi sepertinya yang menguat di Gerindra,’’ tandas sumber.
Mengapa Partai Gerindra? Pertama; Gerindra butuh figur kuat di lokal,nama Hadianto masuk radar; kedua; menjadi kader partai memegang onderbouw parpol; ketiga; punya kapasitas, kapabilitas, dan segmentatif lokal yang kuat. Semua syarat dimiliki Hadi. ‘’Struktur Gerindra loyal ke pimpinan. Bila sudah diputuskan ke bawah loyal,’’ ujar sumber berargumentasi.
Ternyata sumber internal Hadianto tak jauh beda dengan sumber saya di kalangan Gerindra Sulteng. Dengan meyakinkan politisi pengagum Prabowo menyebut bahwa posisi Hadianto di Gerindra sudah clear dan hanya menunggu formasi struktural KSB. Jawaban sumber itu relate dengan beberapa pekan lalu beredar flyer Hadianto dengan Rusdi Mastura dan Longki Djanggola. Kedua nama mantan gubernur dan hingga kini masih elit di Gerindra.
Kedua; Hadianto lanjut sumber, sudah diterima elit DPP Gerindra, misalnya sebut saja, ada nama Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas, dan anaknya Abcandra Muhammad Akbar. ‘’Bukan komunikasi politik formal ya tapi hubungan komunikasi keduanya dengan Hadi sangat baik, bisa jadi itu jalan atau pertimbangan ya kita tidak tau persisnya,’’ lanjut sumber.








